Cahaya Adharta

Rabu 29 Oct 2025 - 18:19 WIB
Reporter : Tommi Robeta
Editor : Tommi Robeta

Hingga suatu hari, kabar datang dari Beijing:

Perusahaan tempatnyi bekerja ingin membuka kantor perwakilan di Indonesia, dan mereka menginginkan Maria memimpin proyek itu.

Maria terdiam. Ada perasaan yang campur aduk: rindu, takut, tapi juga panggilan hati yang kuat.

Mungkin ini cara Kelvin memintanya untuk bangkit.

BACA JUGA:Ketupat Kandangan Banjar, Gurih Ikan Haruan dan Kuah Santan yang Menggoda

Sebuah kebangkitan dari luka.

Maria menerima tawaran itu.

Dia kembali bekerja dengan tekad baru.

Dalam waktu singkat, dia berhasil menjembatani banyak investasi antara Tiongkok dan Indonesia. Media menulis tentangnyi sebagai “Wanita Baja dari Beijing”: cerdas, tegas, dan berjiwa pemimpin.

Namun di balik sorot kamera dan senyum profesional, Maria tetap menyimpan kesedihan yang dalam.

Setiap malam, setelah semua orang tidur, ia menatap langit Jakarta dan berbisik, ”Kelvin, kau lihat? Aku sudah belajar tersenyum lagi.”

Anaknyi, Sandy, tumbuh menjadi anak yang lembut dan penuh kasih.

Ia sering memeluk ibunya dari belakang sambil berkata,

“Papa pasti bangga sama Mama.”

Dan setiap kali mendengar itu, air mata Maria jatuh perlahan  bukan karena sedih, tapi karena hatinyi mulai berdamai.

Suatu malam, Maria bermimpi.

Kategori :