Cahaya Adharta

Rabu 29 Oct 2025 - 18:19 WIB
Reporter : Tommi Robeta
Editor : Tommi Robeta

Maria berhenti bicara.

BACA JUGA:Timnas Indonesia U-17 Satu-satunya Wakil Asia Tenggara

Ia datang ke makam Kelvin setiap hari, duduk diam di bangku batu, membaca ulang surat-surat cinta lama.

”Kenapa kamu pergi begitu cepat?” bisiknyi berulang kali.

Satu tahun berlalu. Ia masih menatap foto pernikahan mereka setiap malam.

Senyum Kelvin seolah hidup, tapi tak lagi bisa disentuh.

Suatu hari, ibunyi menelepon dari Jakarta.

”Maria, datanglah ke sini sebentar. Bawa Sandy. Udara di sini hangat, mungkin bisa menyembuhkanmu.”

Maria diam lama, menatap langit Beijing yang kelabu.

Akhirnya, ia mengemas beberapa pakaian dan terbang bersama Sandy menuju Indonesia.

Jakarta menyambut mereka dengan cahaya matahari yang lembut dan aroma hujan di sore hari.

BACA JUGA:5 Pilihan Camilan Protein Tinggi yang Praktis

Maria tinggal di rumah orang tuanyi di Menteng.

Setiap pagi ia berjalan bersama Sandy ke taman kecil, mendengarkan suara anak-anak tertawa, sesuatu yang sudah lama tak ia rasakan.

Hari-hari di Jakarta terasa asing tapi perlahan menenangkan. Maria mulai belajar bahasa Indonesia dari tetangga dan sopir rumah.

Dalam waktu tiga bulan, ia sudah bisa berbicara dengan lancar dengan logat lembut dan intonasi yang membuat orang jatuh hati.

Kategori :