Cahaya Adharta

Rabu 29 Oct 2025 - 18:19 WIB
Reporter : Tommi Robeta
Editor : Tommi Robeta

Kelvin datang dengan pakaian putih, menatapnyi dari kejauhan.

”Jangan lagi menangis, Maria,” katanya pelan. “Cintaku kini menjadi angin yang menemanimu setiap langkah.”

Saat terbangun, Maria merasa dada yang selama ini berat tiba-tiba terasa ringan.

Dia menatap foto pernikahan mereka di meja, dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, dia tersenyum tanpa air mata.

Lima belas tahun telah berlalu sejak hari pernikahan itu.

Maria kini dikenal sebagai salah satu tokoh investor Tiongkok di Indonesia yang paling berpengaruh.

Dia tak pernah menikah lagi. Hatinyi telah tertambat pada satu cinta yang abadi, cinta yang tak lagi berupa kehadiran fisik, tapi menjadi cahaya yang membimbing setiap langkahnyi.

Suatu pagi, Maria berdiri di depan cermin, kini dengan rambut yang sedikit beruban.

Sandy sudah dewasa, dan hari itu ia hendak berangkat lagi ke Beijing untuk kuliah.

Sebelum pergi, Sandy mencium tangan ibunya dan berkata,

“Mama, di Beijing nanti aku ingin ke makam Papa. Ada pesan?”

Maria tersenyum lembut.

”Katakan padanya... aku sudah belajar tertawa tanpa ia, tapi tak pernah berhenti mencintainya.”

Ketika pesawat lepas landas, Maria duduk di taman, memandangi langit biru Jakarta. Di antara dedaunan yang bergoyang, ia merasakan hembusan angin lembut menyentuh pipinyi seolah ada tangan yang dulu pernah memeluknyi dengan kasih.

Dia menatap langit, menutup mata, dan berbisik, ”Kelvin... perjalanan hatiku belum berakhir. Aku masih berjalan di jalan yang sama jalan cinta yang kau mulai.”

Langit tampak lebih terang hari itu.

Kategori :