Transformasi Ngambek
Transformasi Ngambek --Tomy/Pagaralampos
Transformasi Ngambek
Oleh: Dahlan Iskan
KORANPAGARALAMPOS.COM -
Pemimpin transformasional tidak boleh ngambek. Boleh. Setengahnya saja. Pun dokter Supriyanto, si perumus HWW --hospital without wall-- saat dalam proses mengubah RSUD Tulungagung. Ia sempat setengah ngambek. Tidak hanya satu kali.
Misalnya saat usulan perubahan ditolak Bupati Tulungagung. Itu usulan soal sistem honorarium dokter di sana. Dianggap tidak adil sama sekali.
BACA JUGA: Verifikasi 26 Ribu Rumah Terdampak Bencana
Kalau itu besar kecilnya gaji dokter hanya didasarkan umur dan masa pengabdian. Pokoknya lebih tua gajinya lebih besar.
Akhirnya ia pilih mengutamakan praktik sebagai ahli bedah.
Memang itu bisa lebih banyak dapat uang. Tapi tidak bisa memuaskan jiwa pengabdiannya.
Ia pun membentuk tim dokter. Yang senior diminta di depan. Mereka menghadap bupati secara berombongan.
Ide perubahan itu tetap ditolak.
BACA JUGA: Wawako Pagar Alam Hadiri Deklarasi Indonesia Bersinar di Lahat
Mereka pun ngambek berjamaah. Ups...agak ngambek. Semua dokter itu minta berhenti. Harus pula dapat persetujuan bupati.
Sambil menunggu respons bupati itulah mereka bekerja sekadar memenuhi kewajiban. Pimpinan RS pun kosong.