Google Advertisement Below

Kutukan Alam

Kutukan Alam --Tomy/Pagaralampos

"Sejak 10 tahun lalu," jawabnya.

"Ada peristiwa apa yang memicu Anda pakai kopiah terus?"

BACA JUGA: Kwarcab Pagar Alam Wakili Sumsel di Jambore Nasional XII 2026

"Waktu itu Ahok sedang jadi sorotan. Ahok diperlakukan tidak setara hanya karena ia minoritas. Karena itu saya mengajukan diri sebagai calon walikota Depok. Dari semua calon hanya saya yang Kristen," katanya.

"Tergabung di gereja apa?"

"GPIB –Gereja Kristen Indonesia Barat," jawab Sugeng.

Sejak pencalonan itu Sugeng memutuskan memakai kopiah hitam setiap hari. "Saya tahu tidak akan terpilih. Tapi saya harus tampil demi keberagaman," katanya.

BACA JUGA:3 Pendaki Alami Hipotermia di Gunung Dempo

Sugeng lulusan SMA di Jakarta Utara. Lalu masuk Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Setelah itu Sugeng jadi pengacara.

"Saya dulu pengacara merangkap debt collector," katanya lantas ketawa. "Di lapangan saya sering bentrok dengan teman saya ini," katanya sambil menepuk bahu Petrus Selestinus yang duduk di sebelahnya.

Petrus, salah satu pimpinan Kosmak, jadi pembicara kedua. Sedang koordinator Kosmak, Ronald Loblobly tampil memberi sambutan.

"Saat masih menjadi debt collector saya juga sering berhadapan dengan Hercules. Orang boleh takut pada Hercules. Saya tidak takut. Pun saat Hercules mengerahkan pasukannya. Saya hadapi," ujar Sugeng.

Kosmak, kata Sugeng, harus mengawal penanganan kasus mantan Jampidsus Febrie Ardriansyah sampai ujungnya. Sugeng pun minta pandangan mantan hakim konstitusi Maruarar Siahaan yang jadi pembicara kelima: bagaimana agar tim sembilan yang menangani Febrie Ardriansyah bisa independen.

BACA JUGA:Bawa Nama Sumsel ke Jamnas XII

"Tim sembilan harus bersikap empat prinsip: terbuka, bebas dari tekanan, independen dan fair," ujar Maruarar Siahaan.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan

Iklan Google