Kutukan Alam
Kutukan Alam --Tomy/Pagaralampos
Kutukan Alam
Oleh: Dahlan Iskan
KORANPAGARALAMPOS.COM - Judul buku ini bisa diubah ke banyak istilah: maknanya tetap sama. Memberantas Korupsi Sembari Korupsi.
"Bisa diubah menjadi Memberantas Kejahatan Sambil Jadi Penjahat. Atau Menegakkan Hukum Sembari Melanggar Hukum," ujar Saut Situmorang, mantan komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Saut jadi pembicara pertama bedah buku yang disusun Kosmak –Koalisi Masyarakat Anti Korupsi terbitan Kompas Gramedia itu. Kemarin. Di gedung majalah TEMPO di Palmerah Selatan Jakarta.
BACA JUGA:SMP Negeri 4 Pagar Alam Siap Tampil di Lomba Baris-Berbaris HUT RI ke-81
"Anda ini pejabat KPK terakhir sebelum KPK dilemahkan di zaman Presiden Jokowi," ujar Sugeng Teguh Santoso, moderator acara bedah buku itu.
Sugeng bukan moderator biasa. Ia adalah Ketua Indonesian Police Watch (IPW) yang amat galak. Sugenglah yang melaporkan Febrie Adriansyah soal korupsi mark down di aset Asabri.
Sugeng terus mengejar agar aset senilai Rp 11 triliun yang dilelang dengan harga Rp 1,5 triliun itu diusut. Itu, katanya, tidak hanya korupsi tapi juga ada dugaan unsur pemerasan.
"Kan ada dua saksi utama yang bisa diusut," kata Sugeng. "Saya tidak mau menyebut namanya karena sedang dalam perlindungan saksi. Singkatannya FI dan TK," ujar Sugeng. Semua yang hadir sudah tahu singkatan apa itu: Ferry Ingkirawang alias Boboho dan Tan Kian.
BACA JUGA:Kepala BKAD Pagar Alam Ikuti Launching MCSP-RBS 2026
Sugeng punya data dan ingatan yang panjang. Kalau bicara kalimat-kalimatnya runtut dan logis. Bagi yang tidak tahu, bisa saja mengira Sugeng itu seorang anggota pengurus besar Nahdlatul Ulama (NU): ke mana-mana pakai kopiah hitam.
Siang dan malam. Termasuk ketika tampil di TV mau pun di forum diskusi. Dengan baju putih dan sikap sopan santunnya, Sugeng menyerupai benar tampilan orang NU.
"Sejak kapan pakai kopiah?" tanya saya saat makan siang lontong cap gomeh yang sangat lezat sebelum acara dimulai.