In Five
In Five--Tomy/Pagaralampos
Nama Anunoby kini mulai disejajarkan dengan Draymond Green, bintang belakang klub Warrior, California, juara NBA tujuh kali. Tentu belum sejajar. Green, kini 37 tahun, adalah legenda.
Karena itu ketika Green nonton pertandingan Piala Dunia di stadion Los Angeles kamera sering me-zoom wajahnya. Hari itu tim sepak bola Amerika menang telak lawan Paraguay: 4-1.
Final "in five" ini masih terus jadi pembicaraan hangat di New York. Topiknya dua: mengapa Fox tidak ''buang waktu'' di posisi yang sudah unggul dan tinggal 13 detik.
Bukan hanya ''buang waktu'' harusnya Fox memancing pemain Knicks agar melakukan pelanggaran. Nambah angkanya lewat hukuman atas pelanggaran itu, bukan dengan ngotot ingin mencetak angka meski peluangnya memang sangat besar.
Topik satunya: bagaimana Anunoby bisa tiba-tiba ada di belakang Fox yang sedang melalukan layup dan menggagalkannya.
Begitulah permainan olahraga. Kalau saja Anunoby tidak jadi siluman hari itu puja-puji tentu untuk Fox. Tapi karena gagal ganti caci-maki untuknya.
Tentang layup yang dilakukan Fox sebenarnya sudah sangat benar. Setelah dekat ke ring Knicks ia meloncat dengan tumpuan kaki kirinya, lalu satu tangannya "meletakkan' bola di bibir ring. Itulah layup yang klasik.
Bukan slam dunk. Tingkat keberhasilannya hampir mutlak: ketika belum ada Anunoby.
Kata "meletakkan" bola itu cocok untuk Amerika karena tubuh dan loncatan mereka tidak memerlukan lagi ''melemparkan'' bola.
Anda perlu melihat video viral yang saya sertakan di sini sebelum pertandingan kelima itu. Di situ sejumlah anak muda kulit hitam New York berdoa pakai bahasa Arab. Doa beneran.
Allahuma in five! Doa yang seru karena sekaligus humor politik yang lucu: wali kota New York adalah Muslim sekaligus fans Knicks: Zohran Mamdani.
Bahkan setelah juara pun ada meme dari Cucu Pak Iskan untuk grup keluarga: