Google Advertisement Below

Candi Brahu Jejak Harumnya Agama Buddha di Bumi Jawa

Candi Brahu Mojokerto dan penyebaran agama buddha--Net

KORANPAGARALAMPOS.COM - Candi Brahu diperkirakan berdiri pada abad kesepuluh ketika kekuasaan Medang Kamulan, yang ditandai oleh prasasti ‘Tembaga Alasantan’.

Dalam prasasti itu terdapat kata warahu atau waharu. “

Oleh karena itu, nama Brahu kemungkinan berasal dari istilah tersebut, yang berarti tempat suci untuk pemujaan agama Buddha,” kata Said, salah satu pemandu wisata di Situs Trowulan, saat menjelaskan kepada Pemuda Buddhis dari Temanggung, Semarang, dan Kendal selama Napak Tilas Kejayaan Majapahit.

BACA JUGA:SEDEKAH BUMI: Camat, Anggota DPRD dan Warga Dusun Rimba Candi Kelurahan Candi Jaya Gelar Sedekah Bumi

Candi Brahu adalah candi utama yang dikelilingi oleh empat candi kecil.

Namun, karena berbagai alasan, tiga dari candi tersebut sudah tidak terlihat lagi. Saat ini, yang masih bisa dikunjungi adalah Candi Gentong.

“Candi Brahu ini termasuk sebagai candi utama yang dikelilingi oleh empat candi, yaitu Candi Muteran, Candi Gedong, Candi Tengah, dan Candi Gentong.

Sayangnya, sekarang yang tersisa hanya Candi Gentong, sementara tiga candi lainnya telah hilang akibat alam dan aktivitas manusia,” jelasnya.

BACA JUGA:Resep Bubur Candil Tepung Ketan, Lembut Legit Dan Nikmat!

“Di bagian utara, kita bisa melihat stupa yang menunjukkan bahwa ini adalah candi Buddha, tetapi ada satu yang masih utuh, sementara yang lainnya sudah rusak.

Namun, tampak masih terlihat,” lanjut Said.

Di sisi barat candi ini terdapat sebuah lubang besar yang diperkirakan dapat menampung 30 orang pada zaman dahulu.

Lubang tersebut kemungkinan digunakan sebagai tempat beribadah bagi agama Buddha.

BACA JUGA:Berikan Kenyamanan Pengendara, Warga Candi Jaya Laksanakan Gotong Royong

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan

Iklan Google