Google Advertisement Below

Untung Hoki

Untung Hoki--Tomy/Pagaralampos

BACA JUGA:Berikan Dampak Nyata bagi Masyaakat

Setelah hasil pengobatan itu negatif barulah kami putuskan: ganti hati. Kami pun kirim Robert Lai untuk mengintip satu rumah sakit di Tianjin. Di sana sahabat– soulmate saya dari Singapura itu diskusi dengan para dokter. Hasil diskusi mantap. Kami pun ke sana. Dari Yantai ke Tianjin kini hanya satu lemparan batu. Tiga jam bermobil bisa sampai. Lewat tol. Di zaman saya di sana dulu belum ada tol.

Memang di saat Renard masih kecil, ibunya pernah pergi ke Yantai. Mencari leluhur di sana. Tapi itu sudah puluhan tahun. Sudah lama terputus. Banyak juga yang sudah meninggal. Atau merantau. Satu-satunya nomor telepon yang masih disimpan tidak bisa dihubungi lagi.

Tiga bulan lalu Renard ke Shanghai: melihat pameran dagang. Lalu ke Suzhou meninjau beberapa pabrik. Peninjauan seperti itu selalu diakhiri dengan makan siang atau makan malam. Bicara bisnis pun dilanjutkan di meja makan. Juga bicara soal-soal lainnya.

BACA JUGA:Bentuk Satgas, Awasi Distribusi BBM Subsidi

Di meja makan itulah hadir satu pengusaha yang pabriknya tidak ditinjau Renard karena tidak ada kaitan dengan bisnisnya. Mereka berkenalan. Cerita-cerita. Sampailah pada pertanyaan dari mana asal usul Renard. Mereka kaget bahwa Renard orang Tionghoa. Bahkan bercerita punya keluarga di Yantai. Renard bilang ia tidak tahu di mana itu Yantai. Juga tidak tahu apa-apa mengenai hubungan keluarga mereka.

"Saya juga dari Yantai," ujar pemilik pabrik yang tidak ada hubungan dengan bisnis Renard itu.

Mulailah pembicaraan beralih dari bisnis ke soal asal-usul keluarga. Tentu waktu tidak cukup. Untuk memperdalam pencarian itu Renard diminta ke Shanghai. Ke kantor pengusaha itu. Renard pun mengundurkan jadwal pulang ke Semarang.

Di Shanghai semuanya terungkap. Mereka berdua masih satu keluarga. Diceritakan, sudah tidak banyak lagi yang tinggal di desa kecil itu. Sudah banyak yang merantau –termasuk ia sendiri yang sukses jadi pengusaha di Shanghai.

BACA JUGA:Perkuat Disiplin dan Profeisonalisme ASN

Ketika mendengar Renard akan ke Amerika ia pun memberikan tiket nonton sepak bola itu ke Renard.

Yantai adalah di bagian paling utara provinsi Shandong. Jarang orang Shandong melakukan perjalanan xia nan-yang sampai ke Nusantara. Umumnya orang Tionghoa Indonesia dari provinsi Fujian atau Guangdong.

Tapi di zaman yang lebih awal bisa saja hubungan Shandong-Nusantara sudah terjalin lebih dulu. Di Shangdong-lah Kong Hu-chu mengajarkan pikiran-pikiran bijaknya. Di dekat padepokan Kong Hu-chu itu ada satu desa bernama 泗水. Ejaan maupun bunyinya sama dengan 泗水 yang kita kenal sekarang ini. 泗水 adalah nama Surabaya dalam bahasa Mandarin。

Renard sendiri merasa keberuntungan demi keberuntungan itu berkat kebaikan budi leluhur mereka. Demikian pula pendapat keluarganya yang di Shanghai itu: "Leluhur kita di Yantai adalah orang yang dicintai rakyat berkat kepedulian pada nasib rakyat jelata di sana".

BACA JUGA:Hangat dan Penuh Kekeluargaan, Polres Pagar Alam Gelar Pisah Sambut Pejabat Utama

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan

Iklan Google