Google Advertisement Below

Undangan Sirry

Undangan Sirry --Tomy/Pagaralampos

Begitu banyak pekerjaan konsolidasi. Memang Deyang harus menangis. Tapi jangan lama-lama dan jangan sering-sering.

BACA JUGA:Getaran Gempa Terasa Begitu Kencang

Urusan ini tidak bisa selesai dengan air mata. Kalau mau menangis lari dulu ke kamar kecil. Nangis sepuasnya. Lalu segera cuci muka seolah bukan baru menangis.

Di masa libur ini ganti para petugas dapur MBG yang menangis: tidak dapat penghasilan. Tiap dapur punya 50 orang. Tangisan mereka jauh lebih penting dari tangisnya seorang Deyang.

Sebenarnya kalau saja investasi belum telanjur besar, MBG bisa ditata seperti yang dialami Kemal di Amerika. Mungkin lima tahun lagi: setelah nilai investasi dapur MBG itu pay back.

Para ilmuwan tamu Prof Sirry tentu tidak membahas MBG. Masing-masing mengajukan topik diskusi.

BACA JUGA:Basah Wet

Mulai dari gejala menurun drastisnya santri di pondok pesantren tradisional, bagaimana bisa semua kitab suci mengandung ajaran kekerasan, bagaimana ketakutan melakukan dosa makan babi lebih ditaati daripada berbuat dosa melakukan korupsi, sampai bagaimana baru agama Katolik yang mau mengakui ada kebenaran di luar Katolik.

Selama liburan di Indonesia, jadwal Prof Sirry sangat padat. Ke kampus-kampus. Yang tidak mau mengundangnya justru almamaternya sendiri: Pondok modern Al Amin di Prenduan, Sumenep. Prof Sirry dianggap terlalu liberal.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan

Iklan Google