Afifah Shahnameh
Afifah Shahnameh--Tomy/Pagaralampos
Afifah Shahnameh
Oleh: Dahlan Iskan
KORANPAGARALAMPOS.COM - Saya belum pernah membaca buku terkenal ini: Shahnameh. Saya ingin membacanya tapi sulit mendapatkannya.
Anda sudah tahu: Shahnameh memang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris: The Persian Book of Kings. Ada juga terjemahan dengan judul lain: saya sulit memilih yang mana; yang diterjemahkan oleh siapa.
Saya harus bertemu dulu dengan orang yang pernah membacanya –dalam bahasa aslinya: Persia. Akhirnya saya bertemu si dia: Afifah Ahmad. Wanita Bandung asal Semarang yang tumbuh sebagai anak-anak di Purwakarta.
BACA JUGA:Bakal Hadirkan Kereta Api di Papua
Afifah lulusan sastra Parsi dari Az-Zahra University, Teheran. Di sana Afifah masuk S-1 sampai S-2. Itulah universitas khusus untuk perempuan. Program studinya banyak; mulai fisika, teknik, sampai sastra. Ada juga jurusan studi perempuan.
Di sana, mahasiswa jurusan apa pun awalnya harus mengambil mata kuliah yang satu ini: sastra kepahlawanan. Dua semester.
Bacaan wajib mata kuliah ini adalah Shahnameh –kisah raja-raja.
Itulah buku yang membentuk karakter orang Iran untuk tetap menjadi orang Parsi.
Keparsian orang Iran pernah terancam punah. Yakni ketika wilayah itu ditaklukkan oleh Arab –di masa khalifah Umar bin Khattab.
BACA JUGA:Ketua Ombudsman RI Jadi Tersangka Korupsi
Terjadilah proses arabisasi Parsi. Itu bersamaan dengan datangnya Islam dari Arab. Proses itu berlangsung lebih 200 tahun.
Dari zaman Umar berlanjut ke era dinasti Ummaiyah –yang berpusat di Damaskus, Suriah. Lanjut lagi ke dinasti Abbasyiah yang berpusat di Baghdad, Irak. Dua-duanya kerajaan Arab.