Sirrul Cholil
Sirrul Cholil--Tomy/Pagaralampos
Rumah-rumah di sela pepohonannya banyak yang bercorak modern --pakai pilar-pilar putih model mini Romawi di depannya.
Agak tiba-tiba saya minta Kang Sahidin meminggirkan mobil ke jalan sempit itu: banyak yang berjualan durian. Musim durian di Madura mendahului Sidikalang. Nafsu tidak bisa ditahan lagi. Durian pun dibelah. Lalu masuklah banyak butiran berduri itu ke mobil. Sepanjang jalan aroma durian melekat di Denza.
BACA JUGA:Gubernur Resmikan Jalan Sangaji Desa Pulau Harapan
Di situlah memang pusat durian Madura. Kecil-kecil. Bundar-bundar. Warnanya biru-daun --menimbulkan curiga: seperti durian masih muda. Ternyata rasanya sudah musangking. Hanya dagingnya tipis.
Di pesantren Sirrul Cholil saya bertemu Muqtafi. Ia keturunan ulama besar Madura, Syaichona Cholil --dari jalur istri yang lain. Begitu terpencil Desa Lerpak. Ayah Muqtafi-lah yang mendirikan pondok pesantren di situ. Tingkatnya, awalnya, hanya madrasah diniyah --hanya belajar agama.
Waktu itu Muqtafi masih kecil. Nakal. Selalu membantah orang tua. Karena itu sang ayah menitipkan anak itu ke pondok pesantren di Pasuruan: Sidogiri.
Di sana Muqtafi tetap nakal. Tidak mau salat. Ia lebih suka nonton film. Dan jadi Boneknya Persebaya.
BACA JUGA:Gubernur Resmikan Jalan Sangaji Desa Pulau Harapan
Tapi kiai di Sidogiri tidak mau menghukum atau menegur Muqtafi. Itu karena Muqtafi anak seorang kiai dan keturunan ulama besar.
Titik balik Muqtafi terjadi ketika salah satu kiai di Sidogiri, Mas Mohammad, memberinya kitab kecil ”Dalail”.
Muqtafi disuruh membacanya. Ia tertarik. Karena kecil. Ternyata menyukainya. Sangat menyukai. Mas Mohammad masih sepupu kiai utama Sidogiri, Cholil Nawawi.
Dalail adalah "buku wajib" di pesantren-pesantren NU. Isinya salawat untuk Nabi Muhammad. Penulisnya: ulama sufi terkemuka dari Maroko: Imam Jazuli. Lengkapnya: Imam Muhammad bin Sulaiman Al Jazuli Al Simlali (meninggal 1465M). Nama lengkap kitab itu: Dalail Al Khairat.
BACA JUGA:Meneguhkan Iman, Meneladani Akhlak Rasulullah
Anda sudah tahu beda Dalail dan Barzanji. Dalail adalah murni berisi salawat (doa) untuk Nabi. Sedang Barzanji adalah bacaan riwayat hidup Nabi.
Dalail sangat populer di Indonesia. Isi seluruh kitab harus dibaca (umumnya dihafal) sampai selesai dalam waktu satu minggu. Itu sama dengan Anda membaca salawat terbanyak dalam hidup Anda.