Kopi (K)Mojang
Kopi (K)Mojang--Tomy/Pagaralampos
Kopi (K)Mojang
Oleh: Dahlan Iskan
KORANPAGARALAMPOS.COM - Pernah dengar kopi geothermal?
Itu memang baru: baru dua tahun. Saya sendiri baru tahu bulan lalu: kopi bisa diproses pakai ”uap lebih” dari panas bumi. Rasa harum kopinya lebih keluar. Lebih asli.
BACA JUGA:PBB Puji Langkah Indonesia
Petani kopi di Kamojang pun luar biasa girang. Harga kopinya menjadi naik tiga kali lipat --termasuk karena harga kopi dunia memang lagi tinggi.
Teknologi pengeringan kopi pakai uap geothermal ini sudah dipatenkan. Pemegang hak patennya: Tim Anget-Anget Jos. Itu bukan bahasa Kamojang. Itu bahasa Yogyakarta. Ketua tim itu, Adi Rahmadi, memang orang Yogyakarta. Kuliahnya pun di UGM.
Begitu lulus, Adi bekerja di Pertamina Geothermal Energi (PGE). Di Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). Di Kamojang, Jabar. Di bagian sosial kemasyarakatan.
BACA JUGA:Dukung Gerakan Wisata Bersih
Adi pun berpikir: pengabdian apa yang bisa dilakukan perusahaan untuk masyarakat sekitar Kamojang. Dilakukanlah social mapping. Ketemu: banyak kebun kopi di sekitar PLTP.
Lalu Adi mendalami persoalan apa yang dihadapi para petani kopi. Ketemu: kesulitan mengeringkan kopi.
Anda sudah tahu penyebabnya: ketinggian Kamojang 1.200 meter. Kalau Anda dari Bandung ke arah Garut, kabut akan sering menghadang Anda di Kamojang. Sinar matahari pun tidak terik-terik amat di sana.
Maka pengeringan kopi di Kamojang memerlukan waktu 30 hari --untuk kopi yang belum dikupas kulitnya. Atau 15 hari untuk yang sudah dikupas. Dikupas atau tidak dikupas itu soal pembentukan rasa. Ada pasar yang suka rasa pengeringannya dikupas atau tidak dikupas.