Cahaya Adharta

Disway--Pagaralam Pos

Suara di sekelilingnyi lenyap.

Ia jatuh berlutut, memeluk telepon yang dingin, seakan dari sana ia bisa menarik kembali suara suaminyi.

Malam itu, salju turun tipis di luar jendela, putih dan senyap, seperti menutupi semua warna kehidupannyi.

Hari-hari setelah itu berubah menjadi kabut.

Maria berhenti bicara.

BACA JUGA:Timnas Indonesia U-17 Satu-satunya Wakil Asia Tenggara

Ia datang ke makam Kelvin setiap hari, duduk diam di bangku batu, membaca ulang surat-surat cinta lama.

”Kenapa kamu pergi begitu cepat?” bisiknyi berulang kali.

Satu tahun berlalu. Ia masih menatap foto pernikahan mereka setiap malam.

Senyum Kelvin seolah hidup, tapi tak lagi bisa disentuh.

Suatu hari, ibunyi menelepon dari Jakarta.

”Maria, datanglah ke sini sebentar. Bawa Sandy. Udara di sini hangat, mungkin bisa menyembuhkanmu.”

Maria diam lama, menatap langit Beijing yang kelabu.

Akhirnya, ia mengemas beberapa pakaian dan terbang bersama Sandy menuju Indonesia.

Jakarta menyambut mereka dengan cahaya matahari yang lembut dan aroma hujan di sore hari.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan