Cahaya Adharta
Disway--Pagaralam Pos
BACA JUGA:5 Pilihan Camilan Protein Tinggi yang Praktis
Maria tinggal di rumah orang tuanyi di Menteng.
Setiap pagi ia berjalan bersama Sandy ke taman kecil, mendengarkan suara anak-anak tertawa, sesuatu yang sudah lama tak ia rasakan.
Hari-hari di Jakarta terasa asing tapi perlahan menenangkan. Maria mulai belajar bahasa Indonesia dari tetangga dan sopir rumah.
Dalam waktu tiga bulan, ia sudah bisa berbicara dengan lancar dengan logat lembut dan intonasi yang membuat orang jatuh hati.
Hingga suatu hari, kabar datang dari Beijing:
Perusahaan tempatnyi bekerja ingin membuka kantor perwakilan di Indonesia, dan mereka menginginkan Maria memimpin proyek itu.
Maria terdiam. Ada perasaan yang campur aduk: rindu, takut, tapi juga panggilan hati yang kuat.
Mungkin ini cara Kelvin memintanya untuk bangkit.
BACA JUGA:Ketupat Kandangan Banjar, Gurih Ikan Haruan dan Kuah Santan yang Menggoda
Sebuah kebangkitan dari luka.
Maria menerima tawaran itu.
Dia kembali bekerja dengan tekad baru.
Dalam waktu singkat, dia berhasil menjembatani banyak investasi antara Tiongkok dan Indonesia. Media menulis tentangnyi sebagai “Wanita Baja dari Beijing”: cerdas, tegas, dan berjiwa pemimpin.
Namun di balik sorot kamera dan senyum profesional, Maria tetap menyimpan kesedihan yang dalam.