Google Advertisement Below

Orang Kuat

Orang Kuat--Tomy/Pagaralampos

Lain lagi yang terkait dengan penggarongan BUMN Jiwasraya. Di situ ada nama besar HeHi –Heru Hidayat. HeHi sudah dijatuhi hukuman berat: penjara seumur hidup. Asetnya disita Kejaksaan Agung, termasuk perusahaan tambang batu baranya: PT Gunung Harang. Nilainya Rp6,5 triliun. Aset itu dilelang dengan harga yang Anda sudah tahu. Lelang ini dinilai penuh permainan.

BACA JUGA:Hari Pertama Sekolah Penuh Makna

Yang ketiga, ini dia: soal batu bara. Nilainya Rp 5 triliun. Yang menurut Irjen Pol Totok menjadi penyebab black out –mati lampu– di berbagai daerah Sumatera, Kalimantan, dan Jawa.

Dua perusahaan batu bara menjadi pemasok emas hitam itu ke PLN: PT Oktasan Baruna Persada dan PT Buana Rizky Armia. Itu dua tapi satu. Mereka terikat dalam satu konsorsium.

PT Oktasan berkantor di Jakarta Selatan. PT Buana berlokasi di Bantuas, Palaran, sepelemparan batu dari Samarinda.

Polisi menemukan kejahatan dua perusahaan itu: kirim batu bara ke PLN tidak sesuai dengan kontrak. Batu bara yang dikirim berkalori rendah: 3.000-an GAR. Padahal seharusnya 4.400-an GAR. PLTU-2 PLN memang dirancang untuk dijalankan dengan batu bara kalori 4.400 GAR ke atas. Kalau diberi ''makan'' jenis 3.000-an GAR ibarat perut Yuni Shara atau Syifa Hadju dikasih makan gaplek mentah.

BACA JUGA:Lestarikan Warisan Budaya Lokal

Akibatnya Anda sudah tahu: PLTU yang seharusnya, misalnya, menghasilkan listrik 1.000 MW hanya menghasilkan 600 MW. Produksi listrik berkurang banyak. Akibat buruk lainnya: secara teknis PLTU terus bermasalah. Rusak dan rusak lagi.

Sudah sejak enam tahun terakhir batu bara yang berkalori 4.000 ke atas memang diekspor habis-habisan. Harga ekspor memang sangat tinggi. PLTU di dalam negeri tinggal dapat ''sampah'' nya. Secara fisik sering sudah tidak terlihat seperti batu bara. Sudah seperti tanah –yang kalau terkena hujan seperti lumpur.

Semua itu terungkap berkat laporan sebuah LSM Antikorupsi bernama Koalisi Sipil Masyarakat Anti Korupsi (KOSMAK). Ketuanya: Ronald Loblobly.

Memang ada pertanyaan besar: mengapa PLN mau menerima batu bara yang kualitasnya rendah. Kenapa tidak ditolak.

BACA JUGA:Kepala Bapenda Pagaralam Hadiri Rapat PBG

Jawabnya ada tiga pilihan: (a) petugas bagian penerimaan kena sogok, (b) dipaksa kekuatan luar untuk menerima, (c) PLN terpaksa menerima karena tidak ada batu bara lagi –yang kalau tidak diterima berarti listrik padam total.

Kelihatannya kombinasi jawaban ''b'' dan ''c'' yang terjadi. Indikasinya: meski batu bara yang dikirim 3.000 kalori, tagihannya ke PLN 4.000 kalori. Tidak mungkin orang PLN mau dan berani melakukan kesembronoan seperti itu.

Perbedaan kadar kalori yang begitu tinggi tidak bisa disembunyikan. Seluruh karyawan di bagian penerimaan tahu. Seluruh karyawan bagian pembangkitan tahu. Sistem komputer PLN mencatat: mengapa jumlah (tonase) pemakaian batu bara sama tapi hasil listriknya turun drastis.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan

Iklan Google