Rampok Mamdani
Rampok Mamdani--Tomy/Pagaralampos
Hasil pilegda itu: tiga calon pendatang baru yang didukung Mamdani dapat kursi. Maka posisi Mamdani dalam memperjuangkan anggaran yang sosialistik nanti akan lebih mulus.
"Mesir telah dirampok".
Itulah kata-kata yang paling keras untuk menilai kekalahan Mesir oleh Argentina di Piala Dunia. Pertandingan itu sendiri berlangsung di stadion Atlanta yang bisa ditutup atapnya –agar bisa pakai AC. Tapi hati nurani di seluruh dunia tetap panas.
BACA JUGA:Perkuat Sinergi Tata Kelola Pendidikan
Dalam peristiwa gol ''tangan Tuhan'' Maradona yang membuat Argentina juara dunia tahun 1986 kata-kata ''rampok'' juga muncul. Tapi waktu itu belum ada VAR –bantuan video yang bisa diputar ulang.
Keputusan gol tangan Maradona itu sepenuhnya menjadi otoritas wasit. Bisa saja, waktu itu, wasit tidak melihatnya –dari posisi wasit berdiri– meski seluruh dunia menyaksikannya.
Tapi di kekalahan Mesir sekarang ini otoritas wasit tidak lagi semutlak dulu: wasit bisa mengecek satu kejadian yang syubhat di sistem VAR. Apalagi ini babak menjelang puncak Piala Dunia.
Babak yang kian sensitif. Dan anehnya wasit pilih mengabaikan VAR! Kenapa sih –demi menjaga marwah Piala Dunia– wasit tidak melakukan itu?
BACA JUGA:Objek Wisata Cemerlang Asri
"Mesir telah dirampok".
Mamdani mengucapkan itu sebagai pejuang keadilan. Mamdani sebenarnya sedang berpidato peresmian perluasan layanan bus kota.
"Dengan rute baru ini warga New York bisa lebih banyak punya waktu. Termasuk untuk membicarakan bagaimana Mesir telah dirampok," katanya.
Langsung saja kata-kata yang sebenarnya hanya bagian sangat kecil dari pidato itu menyebar ke seluruh dunia: Mamdani mengatakan Mesir telah dirampok.
Mamdani memang suka sepak bola. Bahkan ia pernah menonton Piala Dunia saat perhelatan itu dilaksanakan di Afrika Selatan. Mungkin sambil napak tilas. Ia masih bisa menyanyikan lagu Waka Waka yang top di Piala Dunia Afrika Selatan; dan sesudahnya.
BACA JUGA:Daftar 17 Pemain yang Terancam Absen di Semifinal Piala Dunia 2026