Wasiat Icha
Wasiat Icha --Tomy/Pagaralampos
BACA JUGA:LGBT Masuk dalam Ancaman Nonmiliter
Saat itulah empat orang ”pejabat” daerah mendatangi dokter Icha. Mereka minta agar dr Icha memberikan suntikan antibisa.
Dokter Icha menjelaskan apa yang sudah dijelaskan kepada pasien. Tapi para anggota DPRD dan dokter hewan itu terus menekan dokter Icha. Sambil menuding-nuding. Yang ditekan bergeming tapi harga diri profesinya tercemarkan di mata banyak orang di lokasi IGD itu --termasuk di depan pasien lain. Salah satu anggota DPRD itu wanita.
Dua hari kemudian dokter Icha membuat pengaduan ke pemkab. Dia ceritakan bentuk-bentuk tekanan yang datang dari para pejabat daerah itu. Termasuk menuding-nudingkan tangan ke arah dokter Icha. Bahkan sambil teriak memanggil wartawan.
BACA JUGA: Carlo Ancelotti Santai Hadapi Erling Haaland
Saya sudah membaca copy surat pengaduan tertulis dr Icha itu. Dia merasa pengaduannya tidak mendapat tanggapan. Dia merasa sangat tertekan. Apalagi setelah pengaduan itu dia melihat sosok yang menekan itu datang lagi ke rumah sakit. Bisa saja untuk menengok pasien tapi dr Icha merasa terancam.
Tidak adanya langkah atas pengaduannyi itu membuat dr Icha kian tertekan. Karena itu dia pulang ke Kupang. Berobat. Termasuk ke ahli jiwa. Tanggal 26 Juni dr Icha ditemukan mati tergantung di kamarnyi, di rumah orang tuanyi.
Selama ini masih diragukan apakah keputusan gantung diri dokter Icha ada hubungannya dengan ancaman tersebut. Tapi dengan dibukanya surat yang ditulis sendiri oleh almarhumah maka jelaslah gantung diri itu terkait langsung. Apalagi dalam surat wasiat itu ditegaskan agar mereka yang mengancam itu diusut.
"Surat itu ditulis tangan atau diprint?".
"Ditulis tangan".
"Berapa panjang? Berapa lembar?"
"Dua halaman. Ditulis di satu lembar kertas bolak-balik".
Berarti panjang sekali waktu yang dipersiapkan untuk gantung diri. Harus menyiapkan tali masih pula harus menulis surat. Bukan niat yang datang sesaat.
BACA JUGA:Kopi Pagar Alam Berpeluang Masuk Batam