Google Advertisement Below

Tiket Lungsuran

Tiket Lungsuran oleh Dahlan Iskan--Tomy/Pagaralampos

BACA JUGA:Minta Penyiksa Perempuan di Bandung Dihukum Kebiri

"Saya sudah siapkan kamarnya," ujar Lia, pianis klasik lulusan sekolah musik di Boston yang kemudian jadi pengacara di New York. "Saya bisa tidur di rumah satunya," kata Lia.

"Tidak," jawab saya. "Saya sudah beli kamar hotel di Manhattan," kata saya.

Seandainya James masih ada saya bisa berhemat Rp 50 juta. Hotel di New York begitu mahal ada Piala Dunia dan kurs rupiahnya itu lho, berasa banget.

Hotel yang hanya bintang empat ini Rp 8 juta/malam. Tambah sekali sarapan sederhana Rp 2 juta. Padahal sarapannya hanya tiga menu: tiga biji telur rebus, bubur oatmeal, dan roti Brooklyn Bagel satu biji.

BACA JUGA:Industri Asuransi Tetap Aman Meski Rupiah Melemah, OJK Ungkap Kekuatan Sektor Perasuransian

Sebagai ganti tidak mau tidur di rumah Lia, saya minta dari bandara langsung ke makam. Sampai 40 harinya itu tiap hari Lia masih ke makam James. Masih menangis. Masih bicara sendiri dengan suami seolah James masih di sampingnyi.

Lia Sundah berdoa di pusara mendiang James F. Sundah di New York.--

Makamnya tidak jauh dari rumahnyi: 15 menit. Ini makam Katolik yang sudah ratusan tahun umurnya. Besar sekali. Nisan-nisannya banyak yang sudah kuno dan begitu di dalamnya terasa seperti lagi ikut tampil di adegan pemakaman film The Godfather.

Di situ James bisa satu ''RT'' dengan keluarga orang-orang terkenal. Juga dengan tokoh masa silam yang terhubung dengan keluarga The Godfather. Nama-nama di makam ini mayoritas memang nama Italia.

BACA JUGA:Masih Jadi MPV Keluarga Favorit di Indonesia, Segini Harga Bekas Toyota Kijang Innova Zenix Tipe V

Dari makam itulah kami ke gereja: kebaktian 40 hari James. Khotbah pak pendeta Rolland Samson mengenai kelahiran Ismail, anak Ibrahim dari istri Hagar (Hajar): bagaimana sang ibu bersusah payah cari air ke gunung untuk bayinya sampai Tuhan membukakan mata Hagar bahwa di situ ada sumber air yang tadinya tidak terlihat. Lia yang lagi susah bisa belajar dari kisah penderitaan Hagar yang terbuang saat itu.

Kebaktian pun diakhiri dengan sambutan saya dan Lia. Lalu makan malam yang salah satu menunya: daging rendang.

Lia masih harus menjamu banyak tamunyi di gereja itu. Jangan tinggalkan mereka untuk mengantar saya ke hotel. Lia pun minta putranyi, Ericjuno, yang antarkan saya ke hotel.

Untuk malam pertama itu saya pilih hotel di Long Beach. Keesokan harinya baru ke Manhattan. Ini sama juga mahalnya dengan yang di Manhattan. Hanya agar Eric tidak terlalu jauh pulang ke rumahnya di daerah itu.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan

Iklan Google