Gu Lebang
Gu Lebang--Tomy/Pagaralampos
"Di lantai empat," ujar salah seorang yang saya tanya di mana salatnya. Masjid ini sudah bangunan baru. Empat lantai. Yang paling bawah untuk restoran mie daging sapi. Lalu bisa naik tangga atau lift.
BACA JUGA:Semarak Idul Adha 1447 H, Pemukulan Bedug dan Do’a Bersama Warnai Malam Takbiran Pagar Alam
Masjidnya di lantai empat, tapi kalau sedang Idulfitri atau Iduladha, lantai tiga dan dua juga untuk salat.
Penampakan masjid yang ada di Xinhua Road Nanning.-Wikipedia-
Masjid tuanya yang bergaya Tiongkok, yang dibangun di zaman dinasti Qing, sudah rusak. Dibangunlah masjid baru di tahun 1981.
Khotbahnya pendek: total pakai bahasa Arab. Tapi sebelum mulai salat ada ceramah panjang dalam bahasa mandarin. Ceramahnya pakai layar lebar digital. Judulnya: Apa yang dilakukan di hari raya Iduladha.
Pertama, harus berhati gembira. Di layar dimunculkan film kartun yang membuat orang gembira. Lalu pakai baju baru. Muncul di layar gambar bapak-ibu-anak pakai baju baru.
BACA JUGA:Suzuki GN 160 2026, Retro Style Combined with Modern Performance, Here Are the Specifications
Berikutnya: ke masjid. Salat. Lalu berkurban. Ditampilkan di layar gambar onta, sapi, dan kambing. Boleh salah satunya.
Ceramah menjadi panjang karena peristiwa Ibrahim akan menyembelih Ismail, putranya, diceramahkan sampai ke soal filsafat di balik peristiwa itu.
Di kota lain, di masjid sebesar ini, biasanya di barisan terdepan ada tujuh jemaah yang berpakaian seragam: bersurban dengan ekor panjang di kepala. Merekalah ''Imam cadangan''.
Di Nanning tidak saya lihat itu. Maka ketika salat berjamaah akan dimulai Pak Imam menghadap jemaah: "Kami perlu tujuh orang yang mau jadi....," katanya dalam bahasa Mandarin.
BACA JUGA:Heboh! Gudang Pabrik Teh PTPN VII di Pagar Alam Terbakar Saat Libur Idul Adha
Beberapa orang unjuk jari pertanda mau jadi relawan. Pak Imam pun menunjuk tujuh orang untuk berdiri.
Tujuh orang itulah yang lantas mengucapkan seruan dalam bahasa Arab secara bersamaan. Seruan itu diucapkan sebanyak tujuh kali. Itulah seruan untuk mulai salat. Setelah seruan ketujuh, semua orang berdiri, merapatkan dan meluruskan barisan. Isi seruan tadi memang untuk merapikan dan meluruskan barusan.