Google Advertisement Below

New Rhun

New Rhun--Tomy/Pagaralampos

BACA JUGA:Canggih Banget! Omoway OMO X Punya Fitur Self-Balancing dan Bisa Parkir Otomatis

Nelayan di Rhun punya dua jenis penghasilan: suami cari ikan di laut, istri memetik pala di kebun.

Pemandangan perahu-perahu nelayan di Pulau Rhun yang sedang sandar.--

Kalau sedang tidak musim pala –pohon pala berbuah tiga kali setahun– mereka mencari biji kenari yang berceceran di sekitar pohonnya yang menjulang tinggi.

Kenari tidak pakai musim. Selalu ada biji kenari yang jatuh ke tanah setelah dagingnya dimakan kelelawar. Kadang ketika kelelawar baru sedikit memakan dagingnya buah kenarinya sudah jatuh ke tanah.

BACA JUGA:ASUS Zenbook S14 OLED UX5406AA 2026, Ultrabook AI Premium dengan Performa Brutal dan Bobot Super Ringan

Di kebun pala memang selalu ada pohon kenari. Disengaja seperti itu. Fungsi pohon kenari untuk menahan angin agar tidak merusak pohon pala. Juga sebagai pelindung panas untuk pohon pala yang masih kecil.

Maka banyak rumah di Rhun yang di halamannya ada jemuran pala dan kenari. Dua jam saya berada di ''Manhattan''-nya Maluku. Ternyata beginilah Rhun yang saya impikan itu.

Rhun yang di Kepulauan Banda itu kini memang tidak gegap gempita seperti Manhattan di New York. Tapi penduduk Rhun kelihatan damai, rukun, dan tidak perlu tergesa-gesa mengejar kereta bawah tanah untuk ke tempat kerja.

Bedanya hanya satu: penduduk Rhun bermimpi bisa ke New York, penduduk New York tidak bermimpi bisa ke Rhun. Ups...tidak. Penduduk Rhun tidak bermimpi ke New York. Mereka lebih bermimpi ke Makkah.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan