Google Advertisement Below

New Rhun

New Rhun--Tomy/Pagaralampos

BACA JUGA:Canggih Banget! Omoway OMO X Punya Fitur Self-Balancing dan Bisa Parkir Otomatis

Kalau Manhattan kini punya jalan utama yang disebut fifth avenue yang gegap gempita dan penuh gedung pencakar langit, kampung di Rhun punya satu jalan utama: lebarnya 1,5 meter, terbuat dari semen.

Di Rhun tidak ada sumber air tawar. Semua rumah punya bak beton untuk menampung air hujan yang jatuh ke atap mereka.

Saya mampir ke rumah Pak Kamaruddin. Terlihat perahu ikan parkir di pantai di belakang rumahnya. Mesin perahu itu Yamaha 40 PK yang kelihatan masih bagus. Mesin itu seharga Rp 47 juta –dibeli dengan uang kontan.

Uangnya dimasukkan tas kresek untuk dibawa ke toko mesin di Ambon sana –delapan jam naik kapal Pelni. "Saya masih punya mesin satu lagi ukuran 15 PK. Kadang saya pakai dua mesin sekaligus," ujarnya.

BACA JUGA:TP PKK Pagar Alam Gencarkan Sosialisasi Stop Nikah Dini

Kami ngobrol di belakang rumah itu sambil melihat luasnya laut Banda. Kamaruddin tidak henti-hentinya merokok. "Satu hari satu pack," ujarnya. "Kalau lagi melaut sehari dua pack," tambahnya. Berarti pengeluarannya untuk beli rokok saja Rp 80.000 per hari.

"Rokok adalah teman satu-satunya di tengah laut," ujar Kamaruddin seperti ingin agar saya memahami kesendiriannya. Ia selalu sendirian ke tengah laut. Pagi berangkat, sore pulang. Tuna besar hasil tangkapannya dijual ke Pulau Banda –45 menit dari Rhun. Tidak ada pedagang ikan yang punya cold storage di pulau Rhun.

Membeli bensin pun harus ke Pulau Banda. Saat jual ikan itu sekalian mampir beli Pertamax: satu liter Rp 18.000.

Nelayan di Pulau Rhun tidak ada yang miskin. Rumah mereka bata. Buatan sendiri. Batanya terbuat dari pasir dan semen. Harga semen Rp 110.000/sak.

BACA JUGA:Jetour T2 2026 Resmi Jadi SUV Boxy Paling Gagah, Mesin Turbo 245 PS dan Fitur Mewah Bikin Melirik

Rumah Kamaruddin hanya berukuran sekitar 6x12 meter, tapi sangat baik. Keramiknya mengilap. Bersih. Catnya rapi. Pengerjaan rumah ini tidak asal-asalan.

Plafonnya juga dikerjakan dengan sangat baik. Finishing-nya mengalahkan bangunan masjid Negara di IKN.

Hampir semua rumah di Rhun seperti itu. Tidak ada yang kumuh. Pekarangan rumah mereka meski sempit tapi rapi. Kelihatan selalu disapu.

Kamaruddin sudah 20 tahun di Rhun. Ia masih lahir di Buton. Istrinya yang sudah kelahiran Rhun. Mereka punya satu anak, wanita, yang baru lulus SMA. Dia akan kuliah di jurusan sejarah Sekolah Tinggi Banda Naira.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan