Google Advertisement Below

Guncangan Transisi

Guncang Transisi--Tomy/Pagaralampos

Tidak satu pun pengusaha besar yang berani berkeluh kesah. Tapi secara informal semua itu jadi pembicaraan di meja-meja makan.

Obrolan pun meluas meski tetap di bawah tanah. Keresahan tidak ditampakkan di permukaan tapi membara seperti sekam di dalam tungku.

BACA JUGA:Dominasi Tanpa Batas: Mengulas ASUS ROG Strix G16, Laptop Gaming Impian Para Pro-Player!

Itulah yang kemudian memunculkan apa yang disebut iklim investasi yang kurang kondusif.

Skala bisnis pertambangan nikel sampai ada yang dipotong sebesar 70 persen. Ada yang tahun lalu bisa menambang 100, tahun ini hanya boleh 30. Di batubara kurang lebih sama. Betapa anjloknya bisnis mereka.

Yang juga mereka keluhkan adalah: tersumbatnya saluran ke jalur-jalur formal. Akibatnya mereka menyelesaikan masalah lewat pihak ketiga –dan itu menimbulkan tambahan biaya yang besar.

Di lain pihak kucuran ''Dana Purbaya'' ke perbankan belum mengucur lancar ke usaha kecil di bawah.

BACA JUGA:Jawara Baru Kelas Entry: Redmi 13C Hadir dengan Layar 90Hz dan Desain Elegan

Bahan pokok MBG masih banyak dibeli dari perusahaan besar, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih masih ancang-ancang untuk berlari.

Kasarnya: yang besar-besar sudah mulai kecewa; yang kecil-kecil belum menyambut gembira.

Mungkin itu memang ciri-ciri masa transisi. Tinggal kuat-kuatan. Apakah pemerintah kuat menghadapi guncangan-guncangan sampai ekonomi kelas bawah bisa mengambil alih kekuatan ekonomi nasional.

Presiden Prabowo punya keterbatasan waktu –termasuk untuk membuat kita tetap tabah menghadapi guncangan transisi, apalagi kalau guncangannya kian kuat dan kian lama. 

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan

Iklan Google