MBG
MBG --Tomy/Pagaralampos
Di masa lalu kalau pun ekonomi tumbuh tapi kesenjangan kaya-miskin melebar. Tumbuhnya pun segitu-gitu saja: lima persen. Angka terbaru kemarin dinilai sebagai ''tumbuh lebih tinggi, tanpa memperlebar kesenjangan''.
Hebatnya, ada yang sampai mengatakan begini: MBG lebih hebat dari gegap gempitanya hilirisasi.
BACA JUGA:Honda PCX 160 vs Yamaha NMAX Turbo, Mana Skutik Premium Terbaik 2026?
Meski hilirisasi digalakkan begitu hebatnya pertumbuhan ekonomi hanya sama saja dengan sebelum hilirisasi. Padahal hilirisasi tidak ada manfaatnya untuk pemerataan.
Hasil hilirisasi hanya berputar pada orang-orang tertentu.
Sedang MBG terbukti ada korelasinya dengan pertumbuhan yang naik, disertai kepastian mendorong pemerataan ekonomi.
Tentu masih harus dirinci: besar mana peran MBG dibanding Lebaran-Imlek dalam kenaikan pertumbuhan lebih setengah persen itu.
Sampai hari ini belum ada angka yang keluar. Para pembela MBG perlu menyiapkan data ilmiahnya. Siapa tahu pihak yang menganggap MBG tidak berguna akan menyajikan data sebaliknya.
Ketika angka pertumbuhan ekonomi itu diumumkan, saya lebih memperhatikan mimik Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa. Mungkin ia kecewa: kok belum juga naik menjadi enam persen ya.
Padahal ia sudah sering memberi gambaran sangat optimistis: tahun 2026 akan tumbuh enam persen, lalu 2027 tujuh persen, dan 2028 atau 2029 delapan persen.
Setelah kecewa, Purbaya terlihat sedikit gembira. Sedikit. Yang penting angkanya sudah naik. Biar pun naiknya baru setengah persen. Tapi pada pertumbuhan ekonomi kenaikan setengah persen itu sangat berarti.
Maka Purbaya masih harus bersabar menunggu rapor BPS di triwulan kedua. Masih ada waktu. Tapi juga ada dag-dig-dug-nya: tidak ada lagi Lebaran dan Imlek di triwulan kedua.
Apa lagi yang bisa diharap bisa jadi pendorong pertumbuhan. Jangan-jangan angka 5,61 persen itu justru kembali turun.