Air Pohon
Air Pohon--Tomy/Pagaralampos
Kapal itu berhenti di Huai An tidak lagi karena harus melapor ke syahbandar. Hanya mau istirahat. Kapal-kapal lain melaju di tengah kanal. Umumnya tongkang.
Ternyata kanal ini masih ramai dengan lalu-lintas kapal. Meski tidak lagi penting tapi masih berfungsi.
BACA JUGA:KWI Ajang Perluas Wawasan Mahasiswa
Di masa nan lalu Huai An dijadikan pusat administrasi logistik Great Canal karena posisinya. Bukan hanya di tengah jarak antara Hangzhou dan Beijing (1800 km), tapi juga karena Huai An terhubung dengan Huang He (Sungai Kuning) –lewat anak sungainya.
Zaman itu Huang He masih bermuara di bagian selatan Shandong. Belakangan muara sungai Huang He pindah jauh ke utara.
Anda sudah tahu: perpindahan muara sungai Huanghe itu terkenal yang paling ekstrem dalam sejarah. Pindahnya sejauh lebih 600 km. Ibarat sungai Citarum yang dulunya bermuara di Bekasi, pindah bermuara di Rembang.
Itu terjadi di tahun 1850-an ketika terjadi banjir besar Sungai Kuning. Saking besarnya air 'melompat' ke arah lain.
Rasanya saat itu pula kota Kaifeng tenggelam. Tertimbun pasir. Kota besar Kaifeng yang sekarang berada di atas kota Kaifeng di zaman Judge Bao –hakim paling adil yang sudah Anda kenal itu. Judge Bao jadi hakim di zaman Great Canal dibangun.
BACA JUGA:Tablet Windows 2026: Pakai Prosesor Terbaru, Libas Desain Grafis dan Gaming Tanpa Lag!
Air kanal itulah yang selama ini memakmurkan kota Huai An. Juga yang membuat peradaban literasinya tinggi. Untuk menjadi pegawai dan pejabat yang mengelola kanal diperlukan SDM berkualitas tinggi.
Pendidikan di situ pun berkualitas –karena meritokrasi dijalankan dengan baik.
Kini air sungai kanal masih mengaliri Huai An, dan orang di sana masih bisa menghibur hati kita: Indonesialah tempatnya pohon bisa tumbuh tinggi.