Lumbung Komisi
Lumbung Komisi--Tomy/Pagaralampos
Kemarin saya lihat suami istri itu sehat sekali. Nisa lebih cantik –berat badannyi turun setidaknya lima kilogram. Rochmat juga lebih ganteng: wajahnya seger cerah. Bibirnya merah.
"Sebelum transplant kelihatan layu," ujar istri saya.
"Bukan hanya layu, Bu. Juga menghitam," ujar Bu Mukri. Sang ibu sangat bersyukur anak bungsunyi bisa terselamatkan dari sakit liver yang sangat berat.
Di hari keenam Lebaran kemarin itu, Pak Mukri datang lengkap dengan besan dan anak cucu menantu: lima mobil. Pak Mukri sendiri naik Denza baru –kena provokasi seseorang yang lebih dulu memilikinya.
"Saya baru datang dari Makkah tadi malam," ujar Pak Mukri.
"Berarti Lebaran di Makkah?"
"Iya, membawa jamaah umrah yang ingin merasakan Idulfitri di Makkah," jawabnya.
Umur Pak Mukri sudah 76 tahun. Tiap bulan masih ke Makkah membawa jamaah umrah Ar Rahman, miliknya. Ar Rahman terbesar di Mojokerto. Terbesar kedua di Jatim. Bahkan dalam bulan puasa kemarin ia dua kali ke Makkah. Awal Ramadan dan di akhirnya.
BACA JUGA:Review Lengkap Nokia Mini 5G: HP Kecil Rasa Flagship, Ini Kelebihan dan Kekurangannya Terbaru 2026!
Pun setiap musim haji: selalu ke Makkah. Tidak pernah absen. Sejak 2001. Bahkan sejak statusnya masih pegawai negeri di kantor Kementerian Agama, Mojokerto.
Itu sempat dipersoalkan teman-temannya: sudah lima tahun dapat cuti besar setiap tahun. Padahal aturannya, cuti besar hanya lima tahun sekali.
Tahun itu, menjelang berangkat haji, ia dipanggil atasan. Tidak boleh berangkat. Tidak lagi dapat cuti. Bikin tidak adil kepada yang lain.
Mukri langsung minta pensiun. Ditolak. Tidak semudah itu. Mukri tidak menyerah. Dasar pengusaha. Ia ke Jakarta. Ia urus sendiri pensiun dini ke Kementerian Agama. Toh masa pengabdiannya sudah cukup. Tinggal enam tahun lagi pensiun.
BACA JUGA:Review Mitsubishi Pajero Sport 2026: SUV Tangguh dengan Fitur Baru yang Bikin Fortuner Ketar-Ketir!