Ziarah Ziarah
Ziarah Ziarah--Tomy/Pagaralampos
Namanya Anda sudah tahu: Fauzi Syam Latif (Disway 19 Februari 2026: Tiga Huruf). Orang Bandung. Mertuanya orang Garut. Sekeluarga Fauzi Persis semua –sedangkan keluarga istrinya NU semua.
Akhirnya Fauzi menciptakan istilah baru. Jalan tengah. Ziarah kubur itu ia bagi dua: ada yang bi barokiyah dan ada yang bi tarikiyah. Yang penting jangan yang pertama: ziarah ke kuburan untuk minta berkah. Kuburan tidak bisa memberi berkah.
Mendengar Fauzi sering ke kuburan, keluarganya di Bandung heboh. Termasuk ayahnya sendiri. Fauzi dianggap orang Persis yang tidak tegak lurus lagi. Fauzi pun sibuk menjelaskan teorinya tentang dua jenis ziarah ke kuburan itu.
Apalagi ketika mertuanya meninggal dunia. Ia harus mengadakan tahlil di rumahnya selama tujuh malam. Ia diejek habis oleh keluarganya.
BACA JUGA:3 Rekomendasi Motor Listrik Buatan Indonesia yang Bakal Jadi Tren di 2026, Harganya Cuma Segini?
"Tapi Anda masih tetap Persis kan?" tanya saya.
"Masih," katanya.
"Ada berapa orang Persis yang kuliah di Al Azhar?"
"Ada 200-an orang".
Tentu itu objek menarik untuk penelitian: bagaimana 200 orang itu bermetamorfosis dari ajaran Persis ke ahli sunnah yang wasatiyah.
BACA JUGA:Yamaha MX King 2026: Kembali dengan Teknologi VVA dan Estetika
"Bisa untuk disertasi S-3," kata saya kepada ustaz saudagar Fauzi. Apalagi ia sendiri mengalaminya.
Saya ceritakan kepadanya: waktu muda salah satu bacaan saya adalah majalah Al Muslimun. Rutin. Itu majalahnya Persis. Yang menerbitkan Persis Bangil, Pasuruan. Sudah lama majalah itu mati.
Saya juga bercerita tentang wartawan saya yang juga dari keluarga pimpinan Persis di Tasikmalaya. Wartawan hebat. Akhirnya jadi pemred harian Rakyat Merdeka.