Tarim Bayi
Tarim Bayi--Tomy/Pagaralampos
Banyak alumnus yang sudah jadi ulama besar di Indonesia.
Pukul 15.00 acara selesai. Lembaran plastik tipis dihampar di lantai. Di depan saya. Dihampar sampai ke depannya Habib Umar. Masih ke sana lagi.
Lalu nampan-nampan berisi nasi briyani ditaruh di atas gelaran plastik. Potongan-potongan daging kambing teronggok di atas nasi. Satu nampan untuk dua atau tiga orang.
BACA JUGA:New Honda WR-V Terbaru 2026 Resmi Hadir! SUV Kompak Makin Sporty, Fitur Tambah Canggih Ditahun 2026!
Sebelum makan petugas mengedarkan teko berisi air. Untuk cuci tangan. Air dikucurkan ke baskom. Cuci tangan dari air pancuran teko itu.
Begitulah. Yang memanjang hanya yang di depan. Selebihnya membuat lingkaran-lingkaran kecil. Satu nampan dilingkari empat orang. Makan gratis. Jumat berkah.
Usai magrib saya diundang makan malam gratis lagi. Yakni di satu rumah di kampung Aididdi dalam kota Tarim. Saya dijemput pakai Alphard berdebu. Sepanjang jalan menuju rumah itu pun berdebu.
Tembok rumahnya sendiri terbuat dari tanah. Pun atapnya. Tapi di dalam rumah itu bersih sekali. Kinclong. Modern.
BACA JUGA:Gak Perlu App Store! Cara Rahasia Aktifkan VPN Bawaan iPhone yang Jarang Diketahui Orang
Sambil makan kami diskusi soal konstruksi rumah di Tarim. Serba tanah. Atapnya pun tanah. Ternyata itu membuat suhu di dalam rumah lebih dingin.
"Cuaca Yaman terlalu panas. Dengan dinding dan atap tanah bisa terasa lebih dingin. Di musim dingin terasa lebih hangat," kata tuan rumah.
Itulah sebabnya di hari kedua di Tarim saya ingin ziarah industri bata tanah.