Bulan Bulat

Bulan Bulat--Tomy/Pagaralampos

Saya tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Makkah. Anak-cucu yang minta saya terbang pulang bersama ibu dan nenek mereka. Bisa saja pembuluh darah saya pecah di penerbangan pulang sembilan jam itu. Saya berani terbang pulang justru karena tidak tahu potensi bahaya besarnya itu.

Tiga hari saya masuk RS di Surabaya. Tidak ditemukan apa pun. Sampai Robert Lai, soulmate saya di Singapura, memaksa saya ke sana.

Diketahuilah: terjadi aorta dissection –pembuluh darah utama saya pecah. Sepanjang setengah meter. Untung bisa diselamatkan.

BACA JUGA: Polres Pagar Alam Raih Peringkat Kedua Keaktifan Laporan Media Online se-Polda Sumsel

Beberapa kali ke Madinah setelah itu saya tidak pernah ikut city tour lagi. Bukan salah kurma. Salah saya sendiri. Juga ''salah''-nya Madinah: kenapa kota ini kian menarik. Kian modern. Kian bersih. Kian tertata. Kian banyak kafenya.

Tanpa ke kebun kurma tidak kekurangan yang bisa dilihat di New Madinah. Dulu ke kebun kurma karena jamaah bisa bosan di Madinah. Kini tidak seperti itu lagi. Jalan kaki ke arah mana pun akan ketemu tempat yang menarik.

Seluruh kota Madinah sudah ditata dengan selera Amerika. Tidak secuil pun terlihat Madinah lama. Tidak ada lagi sudut yang kotor dan kumuh. Kadang saya ikut bersyukur Arab Saudi kaya –sehingga mampu menata kotanya. Mampu juga membersihkan kota dari sampah dan kemiskinannya.

BACA JUGA:Jalan Berlubang di Pagar Wangi Diperbaiki

Tengah malam pun gemerlap –seperti tidak tahu cara meredupkannya. Saya sendiri tidak boleh tidur sebelum pukul 02.00. Anda sudah tahu: saya harus live setengah jam pada pukul 05.00 WIB. Setiap hari. Itu berarti pukul 01.00 waktu Madinah.

Teman saya, pemilik perusahaan haji dan umrah Bakkah, memilihkan hotel di dekat Gerbang 330 Masjid Madinah. Itulah gerbang paling menarik –karena dekat dengan 步行街 terbaru di Madinah. Bukan hanya dekat. Tersambung dengan itu.

Sepanjang jalan utama di depan Gerbang 330 itulah pusat jalan-jalan yang lapang dan gemerlap. Begitu banyak kafe di situ.

Pun tengah malam. Tetap ramai. Ada yang pergi ke masjid. Ada yang baru pulang dari masjid.

BACA JUGA:Cegah Bullying Sejak Dini, Kejari Pagaralam Hadirkan Program JMS

Tahun ini ada pemandangan baru yang sebenarnya agak menggelikan –fenomena TikTok. Orang antre di salah satu kafe kaki-lima di situ. Beli es krim. Serunya, kata mereka, bukan rasa es krimnya tapi proses pembeliannya.

Setiap penjual menyerahkan es krimnya saat itu juga dia menyemprotkan bubble lembut ke pembeli. Tidak hanya itu. Pembeli juga ditaburi kelopak-kelopak bunga Mawar. Seperti dihujani bunga. Mereka pun bersorak.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan