Jane Moses
Jane Moses--Tomy/Pagaralampos
Apartemen-apartemen tinggi. Fungsinya tetap perumahan. Penghuninya tetap penyewa. Tapi penghuni kampung yang lama tidak mampu lagi menyewa di gedung yang baru.
BACA JUGA:44 Siswa SD Negeri 35 Pagar Alam Terima Bantuan Perlengkapan Sekolah dari Pemkot
Mereka tergusur.
Jalan-jalan lebar ia bangun di New York. Kampung miskin ia gusur. Jalan itu untuk yang punya mobil. Penghuni lama tidak mampu lewat jalan di bekas rumahnya itu.
Jembatan-jembatan besar ia bangun. Jembatan tinggi. Perlu akses ke jembatan. Perlu tanah luas. Kampung miskin di sekitar jembatan digusur.
Taman-taman luas ia bangun. Kampung miskin digusur. Taman itu untuk orang kaya.
Pertambahan taman di kota New York saja lebih 500 hektare.
BACA JUGA:Garuda Muda Absen di Piala AFC U-23 2026
Dan itu menimbulkan kebencian yang meluas --di kalangan penduduk miskin.
Gerakan masif anti Moses pun sangat berkembang. Gerakan pertama dipimpin Jane Jacobs. Wanita. Kulit putih. Jane berpendapat kota itu untuk manusia. Moses, kata Jane, beraliran kota itu untuk mobil.
Jane adalah wartawan, penulis, aktivis tata kota. Dia masuk dalam klub arsitektur kota. Bukunya laris: The Death and Life of Great American Cities. Terbit tahun 1961. Ahli tata kota seperti almarhum Prof Johan Silas (ITS) pasti terpengaruh oleh buku ini.
BACA JUGA:Dua Bintang Muda Bersinar, Persija Tumbangkan Persijap 2-0 di GBK
Moses dan Jane sama-sama alumnus Columbia University. Beda tahun. Beda jurusan. Sama-sama juga berumur panjang. Moses meninggal umur 91 tahun. Karena jantung. Jane meninggal umur 89 tahun. Karena stroke.
Setelah Jane meninggal gerakan anti ideologi Moses dipimpin Jumaane Williams. Ia kemarin dilantik sebagai satu dari trio pejabat tinggi New York sekarang: Zohran Mamdani, Jumaane Williams, dan Mark D. Levine (Baca Disway: Tiga Serangkai).
Dulu Moses sangat berkuasa –meskipun tidak pernah menjabat wali kota. Kini si anti-Moses, Zohran, ganti yang jadi wali kota.