Otot Kuat
Otot Kuat--Tomy/Pagaralampos
Maka diputuskan mendadak: tanggal 11 Desember sang ibu operasi. Tanggal 12 Desember, esoknya, giliran sang anak. Di rumah sakit yang sama: RS Orthopedi Surabaya.
Azrul Ananda usai menjalani operasi lutut bersama ibunya.--
Dokternya sama: Theri Effendy. Alumnus Unair Surabaya. Murid Prof Dr Dwikora. Umurnya baru 45 tahun. Ganteng. Athletis.
Theri memang olahragawan: gila sepeda. Hampir selevel dengan anaknya menantu Pak Iskan. Hubungan mereka bukan lagi seperti dokter dan pasien. Sudah seperti di film Hate and Love --saya lupa apakah benar-benar ada film dengan judul itu.
BACA JUGA:Segacor Kakek Zeus! Oppo F25 Punya Baterai Sekuat Petir
Si anak menjalani operasi tanpa mengeluh sakit. Di hari kedua setelah operasi, si anak sudah latihan jalan. Sehari setelah operasi itu ia sudah bisa ke kamar sebelah: menengok ibunya --meski masih pakai alat bantu empat kaki itu.
Mungkin karena ditengok anak, sang ibu merasa lebih bersemangat. Sore harinya, ketika sang ibu menjalani fisioterapi tidak mengeluh sakit lagi.
Apalagi ketika melihat si anak di hari ketiga sudah latihan naik tangga. Sang ibu terlihat begitu termotivasi. Dia pun melakukan fisioterapi lanjutan dengan senyuman.
Saya pun bertanya kepada anaknya menantu Pak Iskan itu: mengapa Anda, di hari kedua, sudah latihan berjalan, dan di hari ketiga sudah bisa latihan naik tangga.
"Karena otot-otot kaki saya kuat," ujar Presiden Persebaya itu. "Saat operasi dilakukan, otot kaki saya dalam kondisi terkuat sejak Covid-19," tambahnya.
Itu karena tiap hari ia naik sepeda. Setidaknya 150 km. Sesekali 250 km. 300 km. Agustus lalu bahkan 1500 km --dari Merak, menyusuri pantai selatan Banten, pantai selatan Jabar, Jateng, Pacitan, Lumajang sampai Banyuwangi.
Sudah pernah pula ia naik sepeda dari Surabaya sampai Labuhan Bajo. Sudah biasa ikut event sepeda di Amerika, Italia, sampai Barcelona.
Sang anak punya otot kaki yang sangat kuat. Si ibu punya gula darah setinggi 300.