Otot Kuat
Otot Kuat--Tomy/Pagaralampos
Saya pun bikin janji dengan dokter Dwikora yang kini sudah profesor doktor. Dr Dwikora-lah yang dulu mengoperasi lutut kanan. Menantu Pak Iskan itu pun masuk rumah sakit.
Sudah bawa kopor. Saya juga sudah bawa bahan bacaan: ikut bermalam di rumah sakit. Besoknya, pagi-pagi, dijadwalkan operasi lutut kiri.
BACA JUGA:Khawatir Mutasi PPPK Berdampak Buruk
Tak lama setelah masuk rumah sakit dilakukanlah pemeriksaan: gula darahnyi di atas 300. Terlalu tinggi untuk operasi besar. Berisiko. Operasi pun dibatalkan. Dokter minta agar gula darah itu diturunkan dulu. Dokter memberi waktu tiga bulan.
Malam itu kami tidak jadi bermalam di rumah sakit. Kopor dan bacaan ikut pulang. Menantu Pak Iskan pun kelihatan agak senang: tidak jadi operasi.
Tiga bulan pun berlalu.
Gula masih tetap tinggi.
BACA JUGA:Benarkah Iphone 11 Kameranya Lebih Baik Dari DSLR? Begini Penjelasanya!
Teman-temannyi bercanda: sengaja dijaga tetap tinggi agar tidak operasi.
Tiba-tiba, pekan lalu dia memberi tahu saya: "anak laki-laki kita akan operasi lutut. Tanggal 12 Desember".
Lutut si anak pernah dioperasi, 20 tahun lalu. Itu karena cedera berat saat main sepakbola. Dipasanglah dua sekrup di tulutnya. Kini skrup itu sudah waktunya dilepas. Sekalian ganti tempurung. Made in Amerika.
Itu anak kesayangannyi.
"Ibu bersama-sama saya saja operasi lutut," kata si anak kepada ibunya.
Besoknya sang ibu bicara pada suaminyi. "Saya mau kalau operasinya sama-sama ....", ujarnyi seraya menyebut nama anaknyi itu.
BACA JUGA:Review Serius Baterai Samsung Galaxy Fit3, Baterainya Tiada Tanding!