Google Advertisement Below

Empati Wanita

Empati Wanita--Tomy/Pagaralampos

Maka saya tidak mungkin lagi merayunya dengan ''gaya merayu wanita''. Saat dia bilang ''pilih mati saja'' saya mengatakan padanyi: "Masalahnya Anda ini tidak bisa mati. Lutut itu jauh dari napas.

BACA JUGA:Inovasi Grafena di Dunia Smartphone

Jadi, berharap mati juga tidak ada gunanya. Kalau tidak mau fisioterapi bukan mati tapi akan terus kesakitan seumur hidup".

Dia kelihatan diam. Setelah lama diam saya cium keningnya, sambil berbisik: "nanti malam fisioterapi ya".

Dia diam. Merengut.

Menjelang jadwal fisioterapi saya pergi. Menjemput pengantin baru dari Syria yang akan berbulan madu di Indonesia. Ia anaknya sahabat baru saya di sana.

Di jalan, saya monitor lewat Nicky yang menunggui istri saya. Alhamdulillah. Istri saya mau fisioterapi.

Kesakitan?

Sampai menangis.

BACA JUGA: Harga Isuzu Panther Reborn 2025 Resmi Diumumkan, Segini Harganya!

Tapi fisioterapi kedua ini membanggakan. Dia bisa melangkah lima langkah. Istirahat. Lalu lima langkah lagi.

Kembali dari ''Syria'' saya ke kamar istri di RS Orthopedi, Surabaya. Itu malam ketiga saya tidur di rumah sakit. Saya lihat istri berbaring sambil main HP.

"Tadi pasti sakit sekali ya?" sapa saya.

Diam.

"Tadi sampai menangis ya?"

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan

Iklan Google