Empati Wanita
Empati Wanita--Tomy/Pagaralampos
Yang saya lakukan kepada Ira ternyata saya lakukan juga kepada istri saya. Jumat kemarin. Itu hari kedua istri saya di rumah sakit. Kamis pagi dia menjalani operasi ganti tempurung lutut kiri.
Di hari kedua itu dia harus menjalani fisioterapi. Anda sudah tahu: fisioterapi untuk orang yang ganti lutut adalah mutlak. Sangat menentukan. Agar kelak, setelah operasi, bisa jalan, duduk timpuh, yoga, atau berposisi tahiyat akhir, dengan baik. Syaratnya harus disiplin menjalani fisioterapi.
Jumat pagi itu dia menjalani fisioterapi pertama. Kesakitan luar biasa. Sampai dia tidak mau lagi fisioterapi. Kapok. Ketika temannyi merayu dengan ''cara wanita'', istri saya punya dalih yang kuat.
BACA JUGA:Kunjungan Wisatawan Diprediksi Meningkat Signifikan
"Kita kan pernah melahirkan. Sakitnya juga luar biasa. Toh kita kuat," kata sahabat itu.
Apa jawab istri?
"Sakit karena melahirkan kan hanya saat itu saja. Begitu bayi keluar selesai. Lega. Ini tidak seperti itu," jawab istri. Dia benar sekali dengan jawabannyi.
Tapi fisioterapi itu mutlak. "Kalau tidak mau fisioterapi bisa fatal. Tidak akan bisa berjalan normal," kata saya. "Akan kesakitan seumur hidup," tambah saya.
"Bah-bah-no," jawabnyi.
Bah-bah-no adalah bahasa Surabaya untuk bodo amat, biarin.
BACA JUGA:Tertibkan Pelaku Pembalakan Liar
Lalu saya jelaskan secara detail apa yang terjadi dengan lututnyi. Seperti apa mekanisme kerja di dalam lutut itu. Risiko-risikonya. Saya tidak memaksanyi.
Saya bisa memahami sakitnya setelah operasi lutut. Seperti semua jenis rasa sakit kumpul jadi satu. Mungkin lebih baik sakit hati daripada sakit fisioterapi.
Jelaslah bahwa istri saya tetap menolak fisioterapi. Bahkan di puncak penolakannyi dia bilang begini:
"Saya pilih mati!" katanyi.