Hati Nikah
Hati Nikah--Tomy/Pagaralampos
Napas pun akan sangat sulit. Apalagi kalau bocoran air itu masuk ke paru-paru. Nafas tersengal-sengal. Lalu meninggal.
Saya agak provokatif kala itu: mumpung masih bisa naik kursi roda. Masih bisa dipapah saat masuk ke pesawat. Organ lain masih baik. Masih bisa mendukung kesembuhan lebih cepat.
Kalau terlambat akan sulit. Apalagi kalau air sudah masuk ke paru-paru. Lalu ke jantung. Lalu tidak bisa lagi dipapah. Harus digendong. Akan sangat berat.
BACA JUGA:KPK Kejar Kerugian Negara USD 15 Juta
Sang ayah percaya penuh pada penjelasan saya. Agak berlebihan.
Modal kepercayaan itu lebih pada melihat kenyataan: saya pernah melakukannya. Berhasil. Hingga sekarang.
Sudah 18 tahun. Sang ayah juga percaya penuh saya akan bisa mengatasi segala kesulitan yang akan muncul di T nanti.
Tentu saya tidak ceritakan kasus-kasus gagal transplant --terutama gagal akibat perawatan pasca transplant yang ceroboh.
BACA JUGA:Toko Atik, Surga Perlengkapan Hiking dan Mendaki
Maka sang ayah, sang ibu, dan saudara sekandungnya tidak perlu ikut ke Beijing. Cukup mengantar sampai Juanda. Dengan full doa.
Tapi saya tanya Nisa: siapa yang diinginkan Mas Olik untuk ikut ke Beijing. Demi ketenangan jiwanya saja.
Dan Nisa tahu persis perasaan sang suami. Maka kakak wanitanya harus ikut: Bu Lilik. Berarti suami Bu Lilik juga ikut: purnawirawan Nasruddin asal Lombok Tengah.
Lalu satu lagi yang harus ikut: Abror. Nama lengkapnya Roisul Abror. Sahabat terbaiknya. Soulmate Mas Olik. Ia seorang penghulu. Sibuk sekali. Sehari bisa menilahkan 14 pasangan.
BACA JUGA:Arab Saudi Tolak Lionel Messi Main di Liga-nya Cristiano Ronaldo, Ini Alasannya!
Saya setujui. Itu saja. Kian banyak orang kian repot. Dan lagi tiap orang harus jelas fungsinya.