Google Advertisement Below

Gunung Es yang “Bernyanyi”? Antara Sains dan Legenda

Gunung Es yang “Bernyanyi”? Antara Sains dan Legenda-net-kolase

KORANPAGARALAMPOS.COM - Di samudra kutub yang sunyi, gunung-gunung es kerap memunculkan suara dari desis lembut hingga dengung menggetarkan dada seolah-olah sedang bernyanyi. 

Fenomena ini memikat imajinasi para pelaut sejak dulu, melahirkan mitos tentang nyanyian gaib yang terperangkap di dalam es. 

Namun di balik aura misterinya, sains menawarkan penjelasan yang sama menakjubkan.

Secara ilmiah, “nyanyian” gunung es lahir dari dinamika es dan laut yang tak pernah berhenti bergerak. 

BACA JUGA:Menguak Kutukan Si Pahit Lidah Terhadap Keturunan Si Mata Empat di Puncak Gunung Dempo

Ketika suhu berubah atau arus menggeser massa es raksasa, terbentuklah tekanan internal. 

Tekanan itu memicu ''retakan mikro'' yang merambat seperti jarum halus menembus kristal, menghasilkan getaran yang merambat sebagai suara. 

Di saat bersamaan, ''gelembung udara'' yang telah terperangkap selama berabad-abad di dalam es bisa pecah atau berpindah, menimbulkan bunyi letup, klik, atau dengung bernada rendah.

Laut turut menjadi konduktor “orkestra” kutub. 

BACA JUGA:Sejarah dan Mitos Gunung Dempo, Dipercaya Sebagai Rumah Manusia Harimau Hingga Si Pahit Lidah

Gelombang yang menghantam atau merayapi sisi gunung es membuat bongkahan raksasa itu bergetar. 

Rongga, lorong, dan celah di tubuh es berfungsi layaknya resonator alami mirip pipa organ yang memperkuat atau mengubah frekuensi suara. 

Hasilnya, telinga manusia menangkap beragam timbre, kadang lirih seperti seruling, kadang dalam seperti gong di kejauhan. 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan