Sejarah dan Mitos Gunung Dempo, Dipercaya Sebagai Rumah Manusia Harimau Hingga Si Pahit Lidah
Sejarah dan Mitos Gunung Dempo, Dipercaya Sebagai Rumah Manusia Harimau Hingga Si Pahit Lidah--
KORANPAGARALAMPOS.COM - Gunung Dempo, sebuah stratovolcano megah yang menjulang di perbatasan Provinsi Sumatera Selatan dan Bengkulu, bukan hanya sekadar puncak tertinggi di wilayah tersebut.
Lebih dari sekadar keindahan alamnya yang menawan, gunung ini menyimpan sejarah geologis yang panjang dan kekayaan mitos yang memikat, menjadikannya salah satu destinasi yang paling menarik di Indonesia.
Dengan ketinggian mencapai 3.173 meter di atas permukaan laut, Gunung Dempo telah menjadi saksi bisu dari berbagai peristiwa alam dan kisah-kisah spiritual yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Keajaiban Geologis dan Aktivitas Vulkanik
Secara geologis, Gunung Dempo adalah bagian dari rangkaian Pegunungan Bukit Barisan, yang membentang sepanjang Pulau Sumatera.
BACA JUGA:Jejak Letusan Gunung Api di Mars yang Baru Terungkap
Sebagai gunung berapi tipe stratovolcano, ia memiliki bentuk kerucut yang khas, terbentuk dari lapisan-lapisan lava yang mengeras dan abu vulkanik yang menumpuk selama ribuan tahun.
Aktivitas vulkanik gunung ini tidak bisa dianggap remeh. Menurut catatan sejarah, Gunung Dempo telah meletus sebanyak 23 kali sejak letusan pertamanya yang tercatat pada tahun 1818.
Letusan-letusan ini seringkali menghasilkan fenomena alam yang signifikan, seperti perubahan lanskap dan dampak terhadap ekosistem sekitarnya.
Salah satu fitur geologis paling menarik dari Gunung Dempo adalah keberadaan dua puncaknya. Puncak tertinggi sering disebut Puncak Api, yang menunjukkan aktivitas vulkanik yang masih berlangsung di bawah permukaannya.
BACA JUGA:Memecah Kontroversi dan Menguak Misteri: Mengapa Gunung Padang Kembali Diteliti di Tahun 2025?
Di salah satu puncak tersebut, terdapat sebuah kawah besar yang memiliki daya tarik luar biasa.
Kawah ini mampu menghasilkan air dengan berbagai warna, mulai dari biru muda yang jernih, hijau zamrud, hingga abu-abu pekat, tergantung pada komposisi mineral dan kondisi geologis saat itu.