Menguak Kutukan Si Pahit Lidah Terhadap Keturunan Si Mata Empat di Puncak Gunung Dempo
Menguak Kutukan Si Pahit Lidah dan Keturunan Si Mata Empat di Puncak Gunung Dempo--
KORANPAGARALAMPOS.COM - Gunung Dempo, sebuah mahakarya alam yang megah, berdiri tegak di perbatasan Sumatera Selatan dan Bengkulu, memancarkan pesona yang tak hanya berasal dari keindahan alamnya, tetapi juga dari kekayaan spiritual dan sejarah lisan yang menyelimutinya.
Namun, di balik pemandangan hijau yang menawan dan kawah yang berwarna-warni, tersimpan sebuah kisah misterius yang telah diwariskan turun-temurun, yaitu larangan bagi keturunan “Mata Empat” untuk mendaki puncaknya.
Kisah ini bukan sekadar cerita rakyat biasa, melainkan sebuah cerminan mendalam dari kepercayaan, kearifan lokal, dan cara masyarakat menjaga hubungan mereka dengan alam.
Si Pahit Lidah dan Kutukan yang Melekat
Pusat dari mitos ini adalah tokoh legendaris yang dikenal dengan nama Si Pahit Lidah. Di dalam tradisi lisan Sumatera, Si Pahit Lidah adalah sosok sakti yang memiliki kekuatan luar biasa: apa pun yang ia ucapkan akan menjadi kenyataan.
BACA JUGA:Sejarah dan Mitos Gunung Dempo, Dipercaya Sebagai Rumah Manusia Harimau Hingga Si Pahit Lidah
Kekuatan ini membuatnya sangat dihormati sekaligus ditakuti. Menurut legenda, pada masa lalu, Si Pahit Lidah terlibat dalam sebuah perselisihan sengit dengan seorang tokoh lain yang dikenal sebagai Si Mata Empat.
Tidak ada catatan pasti mengenai detail perselisihan tersebut, tetapi konon, pertikaian ini sangat serius dan melibatkan kehormatan atau kekuasaan.
Sebagai puncak dari kemarahannya, Si Pahit Lidah mengeluarkan sebuah kutukan yang sangat kuat.
Ia bersumpah bahwa keturunan dari Si Mata Empat tidak akan pernah bisa menginjakkan kaki di puncak Gunung Dempo.
BACA JUGA:Jejak Letusan Gunung Api di Mars yang Baru Terungkap
Kutukan ini diyakini sebagai bentuk pembalasan yang abadi, memastikan bahwa pengaruh dan kekuatan Si Mata Empat tidak akan pernah mencapai tempat suci tersebut.
Meskipun terdengar seperti dongeng, kepercayaan ini sangat mengakar kuat di kalangan masyarakat setempat, terutama di Pagaralam.
Mereka percaya bahwa melanggar kutukan ini dapat mendatangkan musibah, baik bagi individu yang melanggar maupun bagi komunitas.