Anda sudah tahu: ENA didirikan setelah Perang Dunia II. Tujuannya untuk menciptakan pejabat-pejabat tinggi pemerintah yang kapabel. Perang dunia telah menghancurkan ekonomi negara. Untuk membangunnya kembali perlu birokrasi yang hebat.
Presiden Emmanuel Macron adalah lulusan ENA. Pun dua presiden terkemuka Prancis sebelumnya: François Hollande dan Jacques Chirac. Tapi masih lebih banyak presiden Prancis lainnya yang bukan lulusan ENA.
Untuk jadi presiden tetaplah harus bersaing terbuka lewat Pemilu. Setidaknya pemilih di Prancis punya banyak pilihan: sama-sama hebat, sama-sama pintar, sama-sama berprestasi. Tinggal mana yang disukai rakyat. Ibaratnya: salah pilih pun akan terpilih orang yang hebat.
Memperbanyak calon hebat di tengah masyarakat adalah "obat" yang baik untuk mengatasi kelemahan demokrasi. Anda sudah tahu kelemahan pokok demokrasi: yang terpilih belum tentu yang hebat, yang hebat belum tentu terpilih.
BACA JUGA:Harga Terbaru Vivo Y6C Juli 2026, Masih Layak Dibeli? Simak Spesifikasi dan Banderol Terbarunya!
Tapi kalau jumlah orang hebat begitu banyak di tengah masyarakat kelemahan itu bisa dikurangi. Ibaratnya: salah pilih pun akan jatuh ke orang yang tetap hebat.
Memang akhirnya terjadi pro-kontra di masyarakat Prancis. Dunia birokrasi semacam dikuasai oleh gang ENA. Seperti juga kabinet Orde Baru kita pernah disebut dikuasai "Mafia Berkeley" --saking banyaknya lulusan Universitas Berkeley di California yang menjadi menteri ekonomi.
Alumus ENA itu di sana disebut ENArque. Maka ada kecaman bahwa ENArque telah menjadi gang yang menentukan arah birokrasi pemerintahan.
Karena itu dua tahun lalu ENA ditutup. Bukan berarti ENA sudah tidak ada. Itu hanya ganti nama. Juga ganti kurikulum. Semacam dilakukan pembaharuan: lebih terbuka.
Kini nama universitas itu: Institut national du service public (INSP). Masih mirip-mirip. Kuliah kelasnya hanya sekitar 6 bulan. Yang 18 bulan adalah kuliah sambil magang. Magangnya di pemerintahan, di BUMN dan sektor apa saja. Secara pereodik pengalaman magang itu dibahas di INSP.
Sebenarnya sudah sangat banyak juga pejabat muda kita yang sekolah semacam itu. Sekolahnya di Amerika. Di Pittsburg, Pennsylvania. Mata kuliahnya: Reinventing Government.
Apakah sepulang dari Pittaburg mereka bisa melakukan pembaharuan birokrasi? Tidak mudah. Mereka ibarat satu titik putih di tengah bidang abu-abu yang besar.
Mungkin saja Presiden Prabowo ingin memperbanyak titik titik putih itu. Siapa tahu abu-abunya jadi abu-abu keputih-putihan.