Saat penjajah Jepang mulai masuk ke Maluku, duo Bung dipulangkan ke Jakarta. Alwi sudah berumur 14 tahun. Ia diajak serta ke Jakarta.
Dua tahun kemudian Alwi-lah yang mendapat tugas memonitor perkembangan Perang Dunia II lewat radio gelap. Alwi yang menjaga agar radio itu berada di tempat yang aman dari mata-mata penjajah.
Radio itulah yang menyiarkan berita bahwa Jepang telah menyerah. Alwi melaporkan perkembangan itu ke Sjahrir. Lalu menyebar ke anak-anak muda aktivis kemerdekaan. Anak-anak muda itulah yang berkeinginan agar Indonesia merdeka --saat itu juga.
BACA JUGA:Doa Bersama Jamaah Haji Pagar Alam Penuh Haru, Wako Ludi Titip Salam dari Mekkah
Merekalah yang berdiskusi: kalau Indonesia merdeka siapa presiden kita yang pertama. Mereka memilih tokoh ini: Amir Syarifuddin. Mereka mencari di mana Amir berada: tidak ditemukan.
Akhirnya mereka tahu Amir sedang ditangkap Jepang dan dimasukkan penjara Lowokwaru, di Malang. Pemuda Arema sudah diinstruksikan agar mengeluarkan paksa Amir dari penjara tapi gagal.
Akhirnya anak-anak muda itu mencari calon presiden pilihan kedua: Sutan Sjahrir. Hanya saja Sjahrir menolak. Dirayu pun tidak mau. Sjahrir merasa masih terlalu muda. Baru 35 tahun. Tidak ada MK waktu itu.
Justru Sjahrir minta ke anak-anak muda itu agar presiden pertama kita Bung Karno saja. Mereka akhirnya mencari Bung Karno. Mereka sudah menduga: Bung Karno tidak setuju Indonesia merdeka saat itu juga. Bung Karno pilih menunggu janji Jepang yang kelak akan memerdekakan Indonesia.
BACA JUGA:Doa Bersama Jamaah Haji Pagar Alam Penuh Haru, Wako Ludi Titip Salam dari Mekkah
Selebihnya Anda sudah tahu: para pemuda itu menculik Bung Karno dan Bung Hatta untuk dibawa ke Rengasdengklok, dipaksa menyatakan kemerdekaan Indonesia.
Kelak Des Alwi jadi pengusaha besar. Jadi diplomat. Jadi ahli sejarah --khususnya sejarah Banda dan Maluku. Ia pun disekolahkan di Belanda, jadi duta besar dan jadi tokoh nasional.
Tapi kecintaan utamanya tetap pada Banda. Ia bikin yayasan. Bikin perguruan tinggi. Merawat benda-benda bersejarah di sana.
Merawat rumah yang pernah ditempati Bung Hatta, Bung Sjahrir, Dr Cipto Mangunkusumo dan Dr Iwa Kusuma Sumantri --dua nama terakhir dibuang ke Banda tahun 1927, jauh sebelum dua nama pertama.
Keduanya dibuang karena dianggap terlibat gerakan komunis yang melawan Belanda. Dr Cipto, orang Pecangaan, Jepara, adalah orang pertama yang berjuang agar Indonesia punya pemerintahan sendiri.
BACA JUGA:Peter Withe, Satu-Satunya Pelatih Timnas Indonesia yang Pernah Juara Liga Champions Eropa
Dr Cipto sebenarnya akan segera dibebaskan kalau mau menandatangani pernyataan tidak akan bergerakbdi bidang politik. Dokter Cipto menolak. Ia menyatakan pilih mati di Banda daripada menandatanganinya. Dr Cipto tidak sempat melihat Indonesia merdeka. Ia meninggal di tahun 1943.