Google Advertisement Below

Sholeh Cilik

Sholeh Cilik--Tomy/Pagaralampos

Sholeh Cilik

Oleh: Dahlan Iskan

KORANPAGARALAMPOS.COM - Lihatlah video terakhirnya. Pekan ini. "Banyak yang tanya: kok pipi Cak Sholeh tambah mboblem," ujarnya dalam bahasa Jawa-Suroboyoan. "Kebetulan Cak Sholeh sedang sakit," ujarnya lagi. "Ini karena efek obat".

Cak Sholeh meninggal dunia kemarin. Dalam video-videonya ia selalu menyebut dirinya ''Cak Sholeh''.

Namanya memang Muhammad Sholeh. Asal Madura. Ia pengacara wong cilik yang amat populer. Anti korupsi. Konsisten. Dirinya sendiri tidak bisa dibeli. Ia paling gigih mempersoalkan keterlibatan pejabat daerah dalam korupsi dana anggaran jatah DPRD Jatim.

BACA JUGA: Bunda PAUD Kota Pagaralam Hera Parianti Ludi Buka Lomba HAN 2026

Cak Sholeh juga juara mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi. Sudah 24 kali. Dua yang paling terkenal: calon tunggal kepala daerah dan keterpilihan calon anggota DPR/DPRD berdasar suara terbanyak.

Banyak anggota DPR/DPRD yang menikmati hasil perjuangan Cak Sholeh. Salah satunya Indah Kurnia. Tiap pileg nomor urut pencalonannyi terus dipindah ke lebih bawah. Indah terus saja terpilih –kali ini untuk periode keempat.

Indah memang mengakar di dapil Surabaya. PDI-Perjuangan beruntung punya dia.

Indah multitalenta: puluhan tahun jadi kepala cabang Bank BCA, pernah jadi manajer Persebaya yang sukses, penyanyi yang hafal teks 700 lagu lebih –termasuk lagu berbahasa Kanton.

BACA JUGA:Pemkot Pagar Alam Salurkan PMT kepada 66 Keluarga

Sebelum mengajukan gugatan suara terbanyak itu Cak Sholeh mendengar selentingan: pencalonan DPR-nya dari PDI-Perjuangan akan dihambat. Akan ditaruh di nomor sepatu. Sesama tokoh PRD –Partai Rakyat Demokratik– nasib Cak Sholeh tidak sebagus Budiman Sudjatmiko.

Dengan mengajukan gugatan suara terbanyak, Sholeh berharap tetap bisa terpilih meski ditaruh di nomor sepatu. Ternyata Cak Sholeh justru tidak jadi dicalonkan oleh PDI-Perjuangan. Hasil perjuangannya dinikmati banyak orang –kecuali dirinya sendiri.

Di pileg berikutnya ia ingin maju dari Gerindra. Juga tidak terpilih. Lalu maju sebagai calon wali kota Surabaya dari jalur independen. Ia gagal melewati tahap verifikasi jumlah dukungan minimal. Ia merasa telah berhasil menyerahkan ke KPUD 190.000 KTP pendukung. Yang terverifikasi tidak sampai memenuhi syarat minimal.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan

Iklan Google