Lebih dari sekadar geografi, Baikal adalah rumah bagi kekayaan hayati luar biasa.
Diperkirakan terdapat lebih dari 3.500 spesies tumbuhan dan hewan, 80% di antaranya adalah endemik, termasuk satu-satunya spesies anjing laut air tawar di dunia dan ikan transparan golomyanka. Plankton unik seperti Epischura baikalensis berperan penting menjaga kejernihan air dan keseimbangan ekosistem danau.
Keanekaragaman hayati dan nilai ekologisnya membuat UNESCO menetapkan Baikal sebagai Situs Warisan Dunia pada tahun 1996 dan kemudian menjadi Cagar Biosfer.
BACA JUGA:Bir Adaq, Sumur Bersejarah di Madinah yang Tak Pernah Kering Sejak Zaman Nabi
Namun, status tersebut belum membuatnya sepenuhnya aman.
Baikal menghadapi berbagai ancaman seperti polusi, perubahan iklim, dan ekspansi industri yang terus menguji ketahanan ekosistemnya.
Sejarah manusia di sekitar danau ini pun panjang.
Bukti arkeologis menunjukkan bahwa wilayah ini telah dihuni sejak 20.000 tahun lalu oleh para pemburu dan pengumpul.
BACA JUGA:Tokyo, Dari Desa Nelayan Menjadi KotaTerpadat di Dunia
Suku Buryat, yang tinggal di sekitar danau hingga kini, memberi nama Baygal Nuur atau "danau alami".
Sementara itu, penjelajah Eropa baru mengenalnya pada abad ke-17 saat Kekaisaran Rusia memperluas wilayah ke timur.
Kini, Danau Baikal bukan hanya menjadi objek wisata alam, tetapi juga laboratorium hidup yang merekam perubahan iklim, ekosistem purba, dan sejarah panjang umat manusia di Asia utara.
Sebuah permata biru yang menyimpan lebih dari sekadar air, ia menyimpan kisah bumi itu sendiri.