Google Advertisement Below

Networking Rebahan

Networking Rebahan--Tomy/Pagaralampos

Networking Rebahan

Oleh: Dahlan Iskan

KORANPAGARALAMPOS.COM - Saya seperti jadi tertuduh di ”muktamar” Gondang, dekat Pacet (Lihat Disway kemarin: Bintang Perusuh). Padahal awalnya saya hanya ingin sedikit merendah: ”Di DIC Farm ini tidak ada barang mahal.

Meja panjang ini misalnya, terbuat dari jenis kayu yang kalau dijual pun tidak ada yang beli”.

"Kayu apa?" tanya seorang ”Perusuh” Disway.

BACA JUGA:Kabut Asap Karhutla Mulai Ganggu Udara

"Kayu ini dulu waktu di pondok dipakai untuk bantal para santri. Kayu randu".

"Oh, ini yang membuat pohon randu kian langka," ujar perusuh itu.

Di DIC Farm dulunya memang tumbuh beberapa kayu randu. Di pinggir-pinggir batas tanah. Sejak saya mulai menengok lahan ini di masa Covid-19, pohon randunya tinggal dua batang. Dua-duanya besar. Tinggi.

Daunnya sudah meranggas tua. Di sebelah barat pohon itu terhampar sawah. Berarti penyinaran matahari pagi untuk padinya kurang sempurna. Terhalang pohon. Ditebang.

Yang menebang bingung: kayunya dibuang ke mana. Tidak laku dijual. Tidak bisa pula untuk kayu bakar. Lalu saya putuskan untuk dijadikan meja. Dianggap nyeleneh: meja dari kayu randu.

BACA JUGA:Dua Diamankan, Tiga Masuk DPO

Tentu ketebalannya saya buat 20 cm. Agar tidak ”molet” seperti "perusuh" yang malas bangun pagi. Lalu permukaannya disapu dengan api yang disemprotkan dari tabung api. Diberi warna kayu. Bentuk mejanya tidak harus persis segi empat. Pinggirannya tidak harus lurus: ikut lekukan pohon saja. Itulah meja utama yang dipakai bermuktamar perusuh kemarin itu.

Meja randu itu ditaruh di kolong ”rumah Manado”: rumah kayu yang dulu didatangkan dari Tomohon. Bawah untuk muktamar, atas untuk tidur "perusuh" wanita.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan

Iklan Google