Google Advertisement Below

Prabowo Mahathir

Prabowo Mahathir--Tomy/Pagaralampos

Para broker itu menawarkan harga yang menggiurkan: 30 persen lebih mahal dari harga yang diperdagangkan di hari Jumat. Banyak pemegang saham yang tertarik untuk menjual. Transaksi rahasia pun terjadi sepanjang hari Sabtu dan Minggu.

Di hari Senin pagi, 7 September 1981, ketika perdagangan saham di lantai bursa dibuka terjadilah kejutan luar biasa: pemegang saham pengendali Guthrie Plantation sudah pindah tangan. Bukan lagi perusahaan Inggris. Tapi pindah ke orang bumiputra Malaysia.

BACA JUGA:Perang Lawan Narkoba Harus Jadi Gerakan Bersama

Heboh seheboh-hebohnya. Inilah serangan nasionalisasi perusahaan Inggris di Malaysia.

Di Malaysia sendiri dirasa sangat nasionalis: bisa mengembalikan 800 km2 tanah Malaysia yang dikuasai perusahaan Inggris. Ukuran itu tidak terlalu luas untuk ukuran lahan perkebunan di Indonesia. Tapi sangat simbolis bagi Malaysia.

Apakah setelah itu harga saham Guthrie jatuh? Tidak. Setelah itu harga saham Guthrie terus naik --seperti juga harga saham Bayan Resources setelah pindah ke tangan Haji Isam.

Nilai beli yang kemahalan 30 persen di transaksi Serangan Fajar sudah tertutupi oleh kenaikan harga saham.

Tahun berikutnya aksi lanjutan mampu dilakukan terhadap Golden Hope dan Sime Darby. Tiga perusahaan itu kemudian dijadikan satu holding yang sekarang dikenal dengan nama SD Guthrie Berhad.

Sejak Serangan Fajar itu berakhirlah penjajahan Inggris di Malaysia dalam arti yang sebenarnya: secara politik dan ekonomi. Lima tahun kemudian Guthrie keluar dari bursa saham London. Guthrie pindah ke pasar saham Kuala Lumpur.

Yang menarik, transaksi itu tidak mengguncangkan ekonomi Malaysia. Kenapa? Karena tidak terjadi nasionalisasi secara paksa. Tidak ada perampasan hak. Tidak ada rasa anti-Barat. Tidak pula anti kapitalisme. Transaksi itu dilakukan lewat bursa saham.

Inggris memang sangat terpukul dan heboh: perusahaan yang didirikan tahun 1821 itu jadi perusahaan bekas jajahannya. Tapi Inggris kemudian mengesahkan transaksi itu: fair, wajar, dan legal!

Itu berbeda dengan yang dilakukan Indonesia di tahun 1950-an: perusahaan Belanda dinasionalisasi begitu saja. Perusahaan-perusahaan Belanda itu lantas jadi perusahaan BUMN yang salah urus. Penuh korupsi. Memakan banyak uang negara.

Jelaslah bahwa yang dilakukan Mahathir di tahun 1981 itu sangat profesional. Yang ditunjuk sebagai operator Serangan Fajar pun orang yang sangat profesional meski Tun Ismail masih iparnya sendiri.

Tun Ismail lulusan Cambridge, London. Ia tinggal lama di London karena tidak bisa pulang: dunia sedang terlibat perang dunia. Maka Tun Ismail mengerti benar budaya pasar modal di sana.

Sekarang SD Guthrie Berhad tetap menjadi perusahaan BUMN Malaysia yang ukurannya raksasa. Perkebunan sawit dan karetnya diperluas sampai Sabah, Serawak, dan Indonesia.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan

Iklan Google