Paket Roaming
Paket Roaming --Tomy/Pagaralampos
Pukul 09.00 saya sudah tiba di hotel. Go show. Saya pede saja. Pasti ada kamar. "Saya belum booking. Kami tidak tahu bagaimana mem-booking hotel Anda ini dari luar negeri," kata saya.
Kamar ada. Hanya saja jangan tanya harganya. Tentu saya dikenakan tarif "mendadak". Tarif go show. Sudahlah. Uang bisa dicari. Tapi saya tetap harus berhemat. Saya ditawari: saat itu juga bisa langsung masuk kamar. Tidak harus tunggu jam check-in pukul 14.00. Ada syaratnya: harus tambah bayar dengan tarif setengah hari.
Saya pilih titip tas saja. Lalu jalan kaki ke seberang hotel: habiskan waktu di monumen perang dunia kedua. Toh udara sejuk: 23 derajat. Untuk musim panas seperti 8 Juli 2026 suhu seperti itu "nyaman banar". Bagi orang Vladivostok itu hangat: di situ udara musim dingin bisa minus 35 derajat.
Begitu tiba di monumen perang dunia kedua, ups.... kok ini seperti di Surabaya: ada monkasel --monumen kapal selam. Jangan-jangan monkasel Surabaya dapat inspirasi dari Vladivostok.
Surabaya-Vladivostok memang punya hubungan khusus: sama-sama menjadi basis angkatan laut. Di masa lalu banyak anggota TNI-AL ke Vladivostok. Sekolah. Kursus. Pelatihan. Monkasel yang di Surabaya itu pun kapal selam buatan Rusia --buatan galangan kapal di Vladivostok.
BACA JUGA:Bunda PAUD Pagar Alam Tinjau MPLS, Pastikan Anak Belajar dengan Ceria
Yang dipajang di Vladivostok itu kapal selam pensiunan perang dunia kedua. Yang dipajang di Surabaya lebih muda: angkatan Trikora perebutan Papua di tahun 1950-an.
Saya beli karcis masuk Monkasel.
"Kapan itu ada orang Indonesia ke sini. Angkatan Laut. Pangkatnya tinggi," ujar petugas jaga pintu masuknya. Dia pun membuka HP. Cari-cari foto. "Saya berfoto dengan mereka," tambahnyi.
Ketemu. Dua orang itu pakai jas TNI-AL. Masih muda. Gagah. Ganteng. Saya baca nama yang tertera di dada. Saya pun tahu siapa mereka.
Kian siang kian ramai. Banyak rombongan tur tiba dengan bus wisata: 90 persen berwajah Tionghoa. Tour leader-nya juga berwajah Tionghoa. Penjelasannya pakai bahasa Mandarin.
Saya dekati beberapa dari mereka. Saya ajak ngobrol pakai bahasa Mandarin. Ada yang datang dari provinsi Shandong. Suami-istri. Mereka berangkat naik kereta api dua hari dua malam ke kota terakhir Tiongkok yang paling dekat dengan Vladivostok. Lalu ganti naik bus melintas perbatasan.
"Saya TikToker," katanya memperkenalkan diri sambil menunjuk kamera khusus yang menempel di dadanya.