Google Advertisement Below

Gubuk Dea

Gubuk Gea--Tomy/Pagaralampos

BACA JUGA:Antam Gold Prices Drop Slightly on May 26, 2026, Here's the Price

Koleksi museum ini cukup lengkap. Wayang apa saja ada. Termasuk wayang krucil, wayang golek, wayang potehi, sampai wayang Yesus. Yang belum ada adalah wayang yang hanya pernah saya tonton dua kali di masa kecil saya: wayang gedhok –wayangnya pipih terbuat dari kayu. Atau jangan-jangan ada, hanya saya tidak melihatnya.

"Tidakkah Anda keberatan uang suami banyak dipakai beli wayang kuno?" tanya saya kepada istri Njoo. Dia dan putrinyilah yang menyambut rombongan kami.

"Bagaimana lagi. Ini hobi berat suami saya," katanyi.

Saya perkirakan Njoo habis uang banyak –termasuk untuk membeli rumah kuno tiga lantai itu. Masih pula harus membeli rumah di seberangnya: untuk museum toko kelontong zaman dulu. Berbagai model toko kelontong masa lalu ditampilkan. Saya keliling toko-toko itu sambil tersenyum-senyum –ingat ada barang apa saja yang dipajang di zaman itu.

BACA JUGA:Antam Gold Prices Drop Slightly on May 26, 2026, Here's the Price

Museum toko kelontong ini kian terasa unik setelah generasi baru hanya tahu Indomaret dan Alfamart. Lebih unik lagi kalau generasi yang akan datang, di tahun 2050 kelak, tahunya hanya kios Koperasi Desa Merah Putih.

Saya pernah punya teman yang uangnya juga habis untuk urus kegiatan sosial: sepak bola. Ia keturunan Arab. Tinggalnya di kampung Arab di Ampel Surabaya. Uang dan waktunya habis untuk sepak bola. Usahanya pun tidak terlalu diurus. Suatu saat saya bertanya kepadanya: apakah istrinya tidak marah?

"Ya marah-marah awalnya," jawabnya.

"Lalu bagaimana jawaban Anda kepada istri?"

"Saya jawab: hobi saya kan cuma ini. Saya kan tidak hobi perempuan," katanya.

BACA JUGA:Palm Oil Prices Fluctuate Across Indonesia as Farmers Face Fresh Market Pressure in May 2026

Jawaban itu jadi kunci selamanya. Istrinya tidak pernah komplain lagi.

Di museum wayang ini saya otomatis membandingkannya dengan rumah-rumah bersejarah di Banda. Di sana ada ibu tua yang duduk apatis di pojokan. Di museum wayang ini ada Dea. Putri Njoo. Muda. Cantik. Modern. Antusias.

Awalnya saya ragu kalau gadis ini putri pemiliknya. Wajahnyi sangat Tionghoa. Matanyi sangat cendekia. Tapi ngomong tentang wayang begitu tahunya. "Saya mencoba mendalaminya," ujar Dea 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan

Iklan Google