Google Advertisement Below

Dapat Apa

Dapat Apa--Tomy/Pagaralampos

Tentang buah pala dan kenari, saya juga punya kenangan. Semasa kecil di desa dulu, saya dan teman-teman biasanya mencari buah kenari yang jatuh. Pohon tinggi besar yang tumbuh di tepi sungai itu membuat buah yang berjatuhan lebih banyak ke sungai. Seru saat berusaha memecah biji kenari. Rasa sakit di jari akibat tertumbuk batu ketika berusaha memecahkan bagian kulit yang keras, pulih seketika saat biji kenari yang gurih renyah itu berhasil dikeluarkan dari "cangkangnya". Wajar saja harga kacang kenari jauh lebih mahal dibandingkan dengan kacang mede jika dipakai sebagai topping kue brownies.

Buah pala juga unik. Beda asal, beda pula cara memanfaatkannya. Ketika dulu saya di Manado, daging buah pala biasa dijadikan manisan. Teksturnya renyah karena cara pembuatannya direndam di air gula selama berhari-hari. Ada juga yang ditambahkan cabai untuk jenis manisan pala rasa pedas. Biji pala dijual terpisah, pun kulit tipis yang melapisi biji pala itu juga dimanfaatkan, dikeringkan dan dijual tersendiri, namanya fuly. Ini banyak dibeli orang sebagai oleh-oleh khas Manado.

Sedangkan buah pala yang biasa ditemukan di Bogor, berbentuk manisan kering, diberi warna hijau dan bertabur gula putih. Es buah pala yang segar, disandingkan dengan semangkuk soto kuning yang khas itu, merupakan paduan kuliner yang hanya bisa ditemukan di Suryakencana di kota Bogor. Yummy.

BACA JUGA:Sapi Ngamuk dan Seruduk Pemilik karena Mau Dijual

Des Alwi

Nama Des Alwi disebut dalam tulisan Disway hari ini, membuat saya perlu mengenang kembali jasa mendiang. Bukan jasa yang diberikan kepada saya tetapi kepada pimpinan saya ketika saya masih bekerja di Jawa Pos dulu –Bapak Dahlan Iskan. Tidak banyak orang yang tahu, bahkan mungkin tidak percaya, namun kenyataan itulah yang saya alami.

Suatu ketika di tahun 2005, saya mendapat tugas yang cukup "mendebarkan", mengurus visa Inggris atas nama Bapak Dahlan Iskan.

Mendebarkan karena instruksi tersebut saya terima kurang dari 3 hari kerja, waktu minimal yang dibutuhkan untuk pengurusan visa pada umumnya. Maka seseorang dari Travel agen yang sudah berpengalaman mengurus visa, saya minta untuk mendampingi saya. Hari itu, Kamis, saya sudah berada di sebuah Biro di Plaza Abda Jl. Jend. Sudirman, Jakarta untuk menyerahkan form permohonan visa yang sudah ditandatangani oleh Bapak Dahlan Iskan.

BACA JUGA:Viral! Teror Pocong di Tangerang Buat Warga Resah

Ternyata, nama yang bersangkutan, yang tertulis sebagai pemohon visa yang harus menghadap, tidak bisa diwakilkan. Saya segera menelepon ke atasan saya di Surabaya, Ibu Nany Widjaja. Beliau mengatakan: "Bapak sedang di Jakarta, hubungi saja". Dengan sedikit rasa takut namun saya beranikan diri menghubungi nomor beliau dan mendapat jawaban: "saya sedang di Ancol, cukup tidak waktunya jika saya ke sana sekarang?" "Cukup," jawab saya meyakinkan. Setibanya di tempat, bertepatan dengan pemberitahuan dari petugas yang mengatakan," pelayanan ditutup sementara, waktunya istirahat".

Saya berusaha memohon dengan alasan bahwa saya sudah sejak pagi di sini, tetap tidak bisa. Puji Tuhan, beliau tidak marah, kebetulan ada bagian dari form aplikasi yang belum diisi dan harus dilengkapi. Beliau berkata "kita cari meja", maka meja resto Rice Bowl yang ada di gedung tersebut yang kami manfaatkan. Tentu bukan sekadar untuk menulis tapi beliau juga memesan salah satu pilihan menu yang tersedia di meja, mie ayam dan orange juice. Beliau juga bertanya menu apa yang saya pilih, saya menjawab, "sama".

BACA JUGA:Viral! Teror Pocong di Tangerang Buat Warga Resah

Tidak mungkin saya memilih menu yang berbeda apalagi menu yang lebih mahal dari pesanan seorang yang mengajak makan, tidak sopan rasanya. Lebih tidak sopan, ternyata saya tidak mampu menghabiskan porsi mie ayam dan orange juice saya. Beliau bertanya, "mengapa tidak dihabiskan?" Tentu saja saya merasa canggung, gugup, tidak pernah terpikirkan harus makan satu meja dengan seorang pimpinan. Tapi bukan itu jawaban saya, melainkan, "masih kenyang". Saat hendak menulis di form aplikasi yang belum lengkap tadi, terlihat beliau menelepon putrinya –Mbak Isna lalu menelepon juga menantunya –Mbak Ivo untuk menanyakan suatu istilah "pengundang" dalam bahasa Inggris. Ketika tiba waktunya membayar, saya sengaja menjauh dari meja kasir sambil bersiaga jika mungkin dibutuhkan, sebab biasanya beliau tidak membawa uang. Ternyata membawa, he he.

Setelah waktu pelayanan dibuka kembali, kami mendapat urutan pertama yang dipanggil, beliau maju ke depan, beberapa saat kemudian beliau menoleh ke arah saya sambil bertanya, "bawa uang?" Tentu dari kantor sudah saya siapkan biaya yang diperlukan untuk pengurusan visa. Tiga hari kerja ke depan adalah hari Senin. Sedangkan hari Minggu, seharusnya beliau berangkat ke Inggris agar bisa mengikuti acara di hari Senin yang rencananya dihadiri juga oleh menteri keuangan kala itu.

BACA JUGA:Diperiksa Polisi, Model Penyebar Hoax Dibegal di Jakbar Menangis Sesenggukan

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan