Harga Diri
Harga Diri--Tomy/Pagaralampos
Saya pun ingat acara Disway Malang dan Perwosi Kota Batu Minggu pagi lalu. Acaranya di kota wisata Batu. Resminya: menyongsong Hari Kartini.
Tiga pembicara Kartini ditampilkan: seorang wanita karir (Dr Ira Puspadewi), wanita pengusaha roti yang sukses Mulyani Hadiwijaya (Dea Bakery), dan wanita akademisi (rektor UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang).
Saya dijepit para wanita itu sebagai moderator.
BACA JUGA:Nokia Mini 2026 5G Hadir, Smartphone Kompak Rasa Flagship
Di acara menjelang wisuda UT kemarin itu saya ingat yang terjadi di Batu. Terutama presentasi Ira --mantan direktur utama ASDP yang mendapat rehabilitasi oleh Presiden Prabowo Subianto sehingga terbebas dari kriminalisasi.
Hari itu Ira memaparkan hasil penelitiannyi tentang perempuan Indonesia.
Kata Ira: perempuan Indonesia itu selalu memberi nilai-diri lebih rendah dari pada kemampuan sebenarnya yang mereka miliki.
Misalnya: Seorang perempuan ditanya "berapa nilai kemampuan Anda? Skala 1 sampai 10 di level berapa?"
Maka, kata Ira, perempuan Indonesia akan mengatakan kemampuan mereka di level tujuh. Padahal dalam kenyataannya kemampuan mereka di level delapan.
BACA JUGA:Flagship Baru! Huawei Mate 80 Pro 2026 Bawa Kamera Paling Canggih
Sebaliknya laki-laki. "Ngakunya punya kemampuan 9 tapi setelah bekerja di lapangan ternyata hanya mampu 7," katanyi.
Ira sendiri sudah membuktikan bisa berkarir di perusahaan Amerika sampai ke tingkat pimpinan Asia-Pasifik. Lalu ketika menjabat dirut ASDP bisa membuat perusahaan angkutan ferry milik BUMN itu menjadi yang terbaik dalam sejarahnya.
Baru sekali itu ASDP –yang sangat laki-laki– dipimpin seorang dirut perempuan.
Saya setuju dengan hasil penelitian Ira itu. Maka saya pun ingin menjadikan pendapat Ira tersebut sebagai topik utama peringatan Hari Kartini tahun ini: wanita Indonesia tidak boleh lagi ''menjatuhkan harga diri'' lebih rendah dari harga pasar.
BACA JUGA:Nokia Mini 2026 5G Hadir, Smartphone Kompak Rasa Flagship