Rumah Ahmadi
Rumah Ahmadi oleh Dahlan Iskan--Tomy/Pagaralampos
"Latar belakang Anda di mesin. Mengapa masuk ke desain baterai?"
"Saya tidak masuk ke bagian kimianya. Meski saya juga bisa. Saya masuk ke bagian baterai yang menggunakan prinsip-prinsip mesin," katanya.
''Rumah'' baterai yang ia patenkan itu harus mengutamakan presisi, kekuatan dan keamanan –termasuk keamanan dari kebakaran. Semua itu, katanya, prinsip dasar permesinan.
Berarti Kang Dasep masih memikirkan mobil listrik yang ia pernah melahirkannya. Hanya beda bidang. "Silakan semua orang bikin mobil listrik, saya membuat otaknya," katanya.
Kang Dasep menunjukkan betapa rumit ''rumah'' baterai itu sekarang ini. Ia menunjukkan desain baterai di mobil Tesla. Yang ia ciptakan jauh lebih sederhana dari itu tanpa mengurangi fungsi ''rumah'' itu.
Baik kekuatannya maupun keamanannya. Kang Dasep mengintegrasikan sistem pendingin baterai di ''rumah''-nya itu.
Yang ingin ia capai adalah: bisa membantu desain baterai agar charging mobil listrik bisa secepat mobil bensin isi BBM. Material dan pendinginan sangat menentukan.
Secara teori Denza maupun Tesla bisa charging dalam 10 menit untuk terisi 80 persen. Tapi kenyataannya masih 45 menit. Itu pun kalau charging-nya ultra fast charging.
Teknologi baterainya sudah 10C. Hanya kenyataan dalam praktik kapasitas 10C itu terpakai 2C atau 3C.
BACA JUGA:Harga Terbaru April 2026 Honda ICON e: Skuter Listrik Futuristik Ini Ternyata Segini Harganya!
Saat kuliah di ITB (mesin), Kang Dasep lulus dengan IPK 4,2. Saya pun menyampaikan pujian atas nilainya itu. Ia merendah. "Kalau dulu tidak jadi aktivis bisa lebih tinggi," katanya.
"Waktu jaman saya skala nilai di ITB masih maksimum 5, jadi saya 4,2. Kemudian berikutnya di ITB setelah zaman saya skalanya diubah maksimum 4," jelas Dasep saat saya konfirmasi ulang soal IPK 4,2.
Tapi Dasep tidak menyesali pernah jadi aktivis. "Bermasyarakat itu penting. Untuk apa nilai lebih tinggi tapi tidak banyak manfaat," katanya.