Carilah Muka
Carilah Muka--
Orang Indonesia yang sekolah di Hadramaut juga biasa pulang dari Tarim lewat Salalah. Jalan darat. Dari Salalah ada penerbangan ke Doha --lanjut ke Jakarta.
Tapi ketika pergi ke Tarim tidak bisa lewat jalur yang sama. Harusnya bisa saja Jakarta-Doha-Salalah --sambung jalan darat ke Tarim.
Atau Jakarta Dubai-Salalah. Jakarta-Muscat-Salalah. Tapi tidak bisa. Anda tidak bisa masuk Yaman dari Salalah. Hanya pulang dari Yaman boleh lewat Salalah.
Masuk ke Yaman berarti masuk ke ketidakpastian. Oman tidak mengijinkannya. Tapi keluar dari Yaman adalah meninggalkan ketidakpastian: boleh.
Saya pernah ke Salalah --zaman masih muda. Bahkan kali pertama saya ke luar negeri adalah ke Oman --ke Muscat dan Salalah. Itu kalau Tawao tidak bisa dikatakan luar negeri.
Saya ke Oman lagi tahun lalu. Sudah seperti bumi dan sidratul muntaha. Oman sudah menjadi negara modern yang kaya --dengan mata uang terkuat kedua di dunia, setelah Kuwait.
Hadramaut sebenarnya beruntung punya tetangga kaya semua: Oman di Timur dan Saudi di Utara. Tapi nasib memang tidak ditentukan oleh tetangga.
Itu beda dengan Indonesia Timur: tetangganya miskin semua. Di utara ada Mindanau yang miskin. Di Timur ada Papua Nugini yang lebih miskin.
Di selatan sebenarnya ada Australia yang kaya, tapi yang terdekat dengan Indonesia adalah bagian Australia yang paling miskin: Darwin. Lalu punya tetangga baru, sayangnya juga miskin: Timor Leste.
Sebaiknya memang jangan menggantungkan nasib kepada siapa pun --apalagi ke tetangga yang lebih miskin.
Untuk menghilangkan kebosanan saya menjawil penumpang di kursi depan. Saya tahu ia orang Indonesia. Dari wajahnya. Saya duga ia mahasiswa yang sedang kuliah di Tarim.
"Anda Indonesia kan? Dari daerah mana?"